Dahlan Iskan, Protokoler Kenegaraan dan Penghancuran Politik Pencitraan

Di headline News pagi tadi (20/3), media online ramai memberitakan kembali sepak terjang Menteri BUMN. Pak Menteri mencak-mencak di Pintu Tol Semanggi arah ke Slipi karena terjadi antrean panjang mobil yang akan masuk ke Pintu Tol. Padahal beliau sudah sering menginstruksikan kepada Jasa Marga, agar antrean dalam pintu tol maksimal adalah 5 mobil. Namun ketika pagi itu beliau ikut terjebak dalam antrean panjang 30 mobil, dan melihat ada dua pintu dari empat pintu yang tidak di fungsikan, beranglah Pak Menteri. Beliau keluar dari mobil dan masuk dalam loket yang tidak ada operatornya dan serta merta membuang kursi yang ada di dalamnya. “Tidak ada gunanya kursi ini,” Ujar beliau di kutip dari Humas Kementrian BUMN. Bahkan untuk menormalisasikan antrean panjang yang terjadi, beliau sempat menggratiskan kurang lebih 100 mobil. “Kalau Jasa Marga merasa rugi, suruh tagih ke saya,” katanya.

***

Kejadian tersebut menjadi catatan tambahan dari sepak terjangnya selama ini yang yang dianggap out of mainstream dari pelaku para pejabat publik di negara ini. Di tengah gelombang hipokrisi dan megalomania yang tinggi, Dahlan Iskan hadir dengan terobosan serta akselarasi yang mengundang perhatian khalayak. Beberapa kali beliau membuat keputusan dan tindakan yang tidak lazim dilakukan. Meskipun banyak yang memuji, namun tidak sedikit pula yang mencibir adanya pencitraan di balik semua itu.

Memang, kita selama ini telah di didik oleh suatu system kelembagaan Negara yang membuat kita merasa sudah sampai pada tingkat tidak percaya. Perilaku korup, kepentingan politis, kebijakan yang selalu jauh dari amanat rakyat membuat kita di serang dengan gelombang ketidakpercayaan, sinisme dan apatis terhadap segala kebaikan yang terjadi di negeri ini. Membuat kita tidak memiliki kepekaan dan daya analisa tentang apapun saja. Meminjam istilah Emha Ainun Nadjib, kita merupakan generasi kampong yang rentan terhadap segala informasi. Kita selalu gagal untuk menempatkan kuda-kuda pikiran dan sikap kita, sehingga ketika ada yang baik selalu kita anggap itu pencitraan dan yang buruk selalu kita kutuk sampai mampus. Dan lebih celakanya pernyataan seperti itu seringkalinya lahir dari like and dislike dan bukan lahir dari fakta, analisa dan realitas yang ada.

Dalam melayani masyarakat, segala hal yang di rasa menghambat dan menjadikan penghalang haruslah segera dengan cepat dan tanggap untuk di benahi. Sebutlah contoh dari protokoler kenegaraan kita yang seringkali tidak produktif. Parade pidato yang panjang dan bertele-tele, malah dalam beberapa hal menjadi kontra produktif. Kita hanya suka berpidato dan menggurui orang lain, mendebatkan masalah, berdiskusi panjang namun tidak pernah menyentuh esensinya yaitu kesejahteraan masyarakat. Bila kondisi masyarakat yang sudah tertekan, sudah merasa di ambang penderitaan karena di pinggirkan secara ekonomi, budaya dan politik, semestinya tidak perlu adanya slogan-slogan dan janji indah saja.  Namun menagih action secara cepat untuk mengatasi masalah. Seperti halnya ketika ada orang yang ditimpa penyakit yang harus segera mendapat penanganan medis, tidak usah nunggu rapat RT, mendiskusikan ini dan itu atau apapun saja sampai kita tidak ingat untuk menolong.

Permasalahan kemiskinan, disintegrasi bangsa, ketimpangan sosial yang mencolok, dan apapun, telah di diskusikan dari jaman nenek moyang kita sampai sekarang dan belum ada formula yang tepat untuk mengatasinya. Karena kelemahan kita adalah sedikit bekerja namun banyak bicara. Kita tampil dengan kata-kata yang membumbung tinggi, penuh dengan kosakata ilmiah, yang cenderung hanya ingin menunjukkan eksistensi kita namun mengorbankan informasi yang sampai kepada masyarakat. Masyarakat bengong dan bingung karena tidak paham dengan apa yang disampaikan bapak-bapak pejabat yang terhormat itu. Yang mereka tahu hanyalah bantuan kepada mereka, pelayanan yang di berikan kepada mereka, fasilitasi yang harus mereka dapatkan selalu lama dalam merealisasikannya. Sehingga membuat mereka lelah menunggu sampai tidak pernah kembali. Mereka menganggap negara memang seperti itu. Karena bapak-bapak negara adalah orang-orang pandai sedangkan mereka tidak. Apa gunanya ilmu kalau tidak membuat orang bodoh bisa memahaminya.

Protokoler negara juga secara tidak langsung menciptakan gap antara pejabat dan rakyatnya. Mereka tidak bisa berhubungan secara kemanusian karena di halangi blok-blok psikologis yang melingkupinya. Membuat pejabat juga merasa terpenjara dalam sistem prosedural yang membuat mereka menjadi miskin kreativitas dan inovasi. Seorang pejabat hadir dalam suatu acara resmi dengan membawa safari kemewahan, di sambut dengan parade dan di salami penuh kehormatan, sehingga waktu yang seharusnya dapat lebih untuk berdialog dengan masyarakat menjadi tidak maksimal.

Yang menyebabkan permasalahan negeri ini menjadi berlarut-larut untuk dapat di atasi. Kasus korupsi yang terjadi di negara ini, memperlihatkan betapa aturan sangat di dewakan namun mengesampingkan akhlak dan moral. Sudah menjadi tersangka, namun dengan kepandaian silat lidah dan berlindung di balik pasal KUHP, seorang tersangka masih dapat berkelit kesana kemari. Hancurlah negara ini ketika yang di jadikan dasarnya adalah hukum dan aturan dan bukannya moral dan etika.

Dahlan Iskan tidak mengambil hal tersebut. Bapak yang satu ini telah banyak melakukan terobosan-terobosan dengan membenahi keruwetan birokrasi. Dengan ide-ide segar, santun, merakyat dan cepat mengabil kebijakan, jauh dari kesan yang selama ini dimiliki oleh para pejabat.

So, apakah kejadian di gerbang tol di pagi itu adalah suatu pencitraan atau bukan, yang tahu hanya Dahlan Iskan sendiri dan Tuhan. Kita tidak perlu menjadi hakim yang menentukan dan menjustifikasinya. Dan Dahlan Iskan juga tidak perlu di puji karena memang seharusnya demikianlah menjadi seorang pejabat Negara.

N. Gilang Prayoga

Purbalingga, 25 Maret 2012

01.07 wib

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 25 March 2012, in Kolom Esai, MENU BARU 1, News. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: