Esemka=No, Maleo=Yes

Biasanya siapa yang mengkritisi mobil Esemka akan dianggap tidak punya rasa  nasionalis.  Hehehe🙂 Tapi ya sudah lah. Bangsa ini memang butuh kejujuran daripada nasionalisme buta. Bukan cerita baru kalau sebagian dari kita susah menerima kritik.

Dari awal gembar-gembor mobil Esemka di-mobnas-kan sebenarnya saya sudah tidak percaya kalau mobil tersebut “dibuat” bukan “dirakit”. Sebelum mobil tersebut dipakai oleh pejabat daerah, liputan pertama yang saya tonton di TV, jelas-jelas menunjukan  anak SMK-SMK yang masih jujur dan lugu itu mengatakan kalau mereka merakit mesin dari kendaraan lain. Bahkan salah seorang dari mereka menyebutkan merek mobil tertentu sambil memperlihatkan blok mesin.  Selain itu, jelas-jelas, spanduk di lokasi kerja para anak SMK itu (yang muncul di TV) menyebutkan “tempat perakitan”. Anak-anak SMK yang jujur itu tidak pernah menuliskan “Pabrik Mobil”.

Entah kenapa, ketika pejabat sudah punya misi politis, semuanya berubah. Anak-anak SMK yang jujur bahwa mereka hanya belajar merakit, tiba-tiba tenggelam dan posisinya digantikan para pejabat yang pintar bermain kata-kata dan mencari popularitas.

Saya pernah bekerja di salah satu FMCG company. Dan setiap saya membuat  produk baru, saya harus menyiapkan design botol baru yang nanti akan dibuatkan mouldingnya. Sayang tidak terbayangkan berapa nilai investasi yang harus dimiliki seorang Sukiyat dibengkel  karoseri-nya atau anak-anak SMK untuk bisa memiliki peralatan membuat mobil, kalau untuk sebuah moulding botol PET 8 cavity saja, saya bisa menginvestasikan sampai 2 milyar rupiah.

Sekarang, apakah kalau anak-anak SMK itu ternyata cuma tukang rakit, itu hina?  Tentu tidak! Sebenarnya, saya pikir tidak masalah kalau mobil itu hanyalah mobil rakitan dari mobil China bernama Fudi Explorer 6 yang sudah dipasarkan sejak 2009 (note: seorang teman yang berada di salah satu pasar di negeri China mengambil gambar-gambar kendaraan ini). Apa salahnya kalau anak-anak SMK belajar merakit mobil? Tidak ada yang salah! Yang salah adalah pejabat yang memanfaatkan anak-anak SMK dan kata “Nasionalisme”.

Kita masih ingat kasus masuknya Timor dan Bimantara? Mobil-mobil Korea yang di_mobnas-kan? Bahkan saking suksesnya kata-kata mobnas menempel pada mobil-mobil yang punya merek asli Kia dan Hyundai ini, proyek Maleo yang sebenarnya adalah proyek mobil anak bangsa yang digagas Habibie  jadi terlupakan.

Buat para tenaga pemasaran di dunia otomotif, memainkan kata,”Nasionalisme” adalah kartu sakti yang bisa membuat proyek import mobil China berjalan mulus dan sukses di pasar Indonesia. Dengan embel-embel nasionalisme, orang bisa menutup mata akan atribut kualitas. Dalam marketing, A bisa jadi B dan sebaliknya. Orang-orang marketing tentunya paling ahli bermain kata-kata. Tapi setidaknya produsen Timor dan Bimantara masih memiliki nilai kejujuran. Mereka tidak pernah malu menyebut kata “merakit”. Bahkan ketika mereka dengan lirih menyebutkan kandungan lokal yang masih rendah. Setidaknya mobil Korea yang di-mobnas-kan, masih bermain cantik.

Kebetulan Timor adalah mobil pertama di keluarga saya. Apakah ketika saya mengendarai Timor, saya bangga karena mobil tersebut adalah mobil “asli indonesia”? Tentu tidak! Keluarga saya membelinya karena murah dan saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau mobil tersebut hanyalah  mobil Korea yang bagian joknya dibuat oleh orang indonesia. Apakah saya tidak punya rasa bangga dengan karya anak bangsa? Saya pribadi lebih bangga memamerkan baju batik sederhana yang asli “indonesia banget” daripada produk asing yang “di-indonesia-indonesia-kan”.

Pejabat “gila hormat” ternyata tidak hanya ada di pulau jawa. Baru-baru ini, kapala daerah salah satu propinsi di sumatera gantian memamerkan pabrik di lingkungan SMK yang katanya bisa digunakan untuk membuat onderdil mobil. Pejabat itu dengan bangga berkata kalau mereka “membuat” bukan merakit, padahal di layar TV jelas-jelas tampak merek Krisbow dan Focus (sudah dikenal sebagai produk negara lain). Tidak kurang pongahnya, si kepala daerah langsung memamerkan sebuah mobil (belum ada body-nya) yang katanya buatan anak SMK di propinsinya. Walau jelas-jelas ada merek Toyota di bagian mesin yang terlihat terang bernderang. Mungkin di minggu-minggu depan, SMK ini juga akan terkenal seperti sekolahan yang “memproduksi” Esemka.  Kalaupun nanti mereka mengklaim, sebagai pembuat produk asli indonesia, saya hanya akan tersenyum sambil mengingat merek-merek Krisbow, Focus dan Toyota yang baru saja saya lihat di liputan berita hari ini.

Melihat kepongahan beberapa pejabat, saya justru iba. Iba dengan rendahnya standar mereka. Dari standar kejujuran sampai standar kualitas dari sesuatu yang bisa disebut sebagai produk nasional. Akhirnya, satu pertanyaan yang ingin saya ajukan, apakah para pejabat yang mengatakan Esemka itu buatan anak bangsa padahal cuma “rakitan” adalah pahlawan? Kalau begitu, harusnya predikat yang sama bisa kita berikan kepada salah satu anak mantan presiden Soeharto yang telah melahirkan mobnas pertama bernama Timor jauh-jauh hari sebelumnya. Harusnya beliau patut dihormati lebih dari seorang Habibie yang proyek Maleo-nya tidak pernah mendapatkan perhatian serius.

Bagaimana dengan hari ini? Selain pejabat yang sedang me-mobnas-kan mobil China, tahukah anda kalau para peneliti kita di LIPI sedang berjuang untuk sebuah mobil listrik yang kelak akan bisa diproduksi oleh anak bangsa? Mungkin mobil buatan LIPI tidak sehebat mobil buatan China atau Korea. Tapi dari sana lah mobil nasional yang sebenarnya akan muncul. Bukan sekedar mobil import dari Jerman, Amerika atau Jepang yang dirakit dan dikasih merek lokal.  Seperti dejavu Timor vs Maleo hehehehe… Akhirnya pemerintah kita memang lebih senang meng-import.

Soal merek lokal, saya jadi teringat saat saya harus membeli puluhan mesin cuci dari China untuk hadiah (sebuah program undian nasional). Ketika sayasedang memeilih-milih, saya sempat bertanya,” apakah saya bisa dapat merek lokal?” Jawaban yang saya dapat dari tuan toko adalah: Bapak mau merek apa? Nanti saya tempel, bahkan bisa pakai nama Bapak. Apapun mereknya, mesinnya tetep China. Bahkan bisa dikasih merek ‘pancasila’ atau ‘merah putih’ biar terlihat merek lokal. LOL

Dari tulisan di atas, bisa disimpulkan kenapa saya tidak bangga dengan Esemka. Seandainya proyek “mobnas asli” seperti Maleo diteruskan, tentu saya lebih punya rasa bangga. Walau Maleo akhirnya kandas (karena kepentingan tertentu), saya masih bisa mengingat hasrat dan kebanggaan yang berbeda sebagai anak-anak waktu itu . Semoga kelak, Indonesia bisa benar-benar memiliki mobnas yang sesungguhnya ketika para pejabat kita bisa membedakan antara “membuat” dan “merakit”.

Oleh : Uki Lukas

Sumber : Kompasiana

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 11 March 2012, in Kolom Esai and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. hahaha…. Jadi begitu ya😀
    anak smk hanya di manfaatkan rupanya… Hmmm menyedihkan sekali negriku ini

    • Gilang Prayoga

      Kita boleh berbangga dengan karya anak negeri..namun juga harus tetap di memijak bumi, dalam artian tetap memuji kreativitas dan usahanya yang patut kita dukung..namun jangan terus kita di butakan dengan nasionalisme buta yang mengaku begitu saja….ada beda definisi antara merakit dan membuat. Membuat adalah menciptakan sesuatu yang baru dengan komponen yang baru pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: