Kuliah itu Ternyata “Tidak” Penting

Bila membaca judul di atas mungkin kita akan sedikit mengernyitkan dahi. Karena dimanapun, entah di jaman dahulu atau atau sekarang, entah di kota atau di desa, entah kaya atau miskin, kita semua bersepakat bahwa melanjutkan kuliah itu merupakan suatu hal yang penting, yang kita upayakan sedemikia rupa agar kita dapat menikmati empuknya bangku kuliah. Meskipun lading atau hewan ternak orang tua kita menjadi tebusan. Yang penting cita-cita kuliah itu harus nomor satu, karena beberapa alas an. Tentunya yang pertama adalah mendukung program pemerintah untuk wajib belajar. Kedua, dengan kuliah kita mendapatkan sebuah ijasah dan gelar yang tidak semua orang berhak menyandangnya. Sehingga akan sedikit banyak meningkatkan gengsi dan harga diri kita di hadapan calon mertuan kita kelak. Dan Ketiga adalah dengan kuliah kita mendapatkan pintu untuk mengakses pintu-pintu perusahaan bonafide, meskipun alas an yang ketiga ini masih bisa di perdebatkan karena fakta empiris saat ini malah sarjana pengangguran sangat tinggi sekali. Sehingga kita bisa alas an kembali kaitannya dengan pentingnya kuliah, “ Kalau yang sarjana saja sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi yang Cuma lulusan SMP dan tidak sekolah”. Maka kita diam-diam juga ok untuk mendukung gerakan untuk kuliah.
Meskipun juga harus ada argument-argument klise seperti kuliah itu untuk menuntut ilmu, menguak rahasia keajaiban alam yang terhampar. Menjadi sang pencerah dalam membaca tanda alam melalui ilmu pengetahuan. Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui riset-riset ilmiah.
Namun mayoritas ketika di telusuri lebih dalam lagi, ujungnya adalah sama: setidaknya nanti dengan kuliah dapat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih dari layak. Untuk urusan ilmu pengetahuan, itu kita pinggirkan untuk menjadi kosmetik wajah ketika kita berhadapan dengan orang lain. Sepenuhnya kita lebih berharap kepada pengakuan saja yang tercetak dalam lembaran ijasah.
Saya belum melakukan survey apakah selama ini apakah sarjana cetakan dari universitas selalu dapat mengaplikasikan ilmunya yang di dapat di bangku kuliah. Berapa prosentase ilmu kuliah yang dapat kita terapkan dalam pekerjaan kita. Apakah orang yang belajar ekonomi akan selalu sukses menjadi ekonom? Apakah para mahasiswa di jurusan ilmu agama, terus lantas setelah lulus menjadi mubaligh? Apakah juga untuk program studi yang lain juga akan selalu relevan dengan pekerjaan selanjutnya? Kalau tidak di aplikasikan kan ini merupakan defisit pengetahuan, penghamburan ilmu serta kesia-siaan saja. Meskipun juga tidak bisa di generalisir secara merata.
Contohnya adalah jurusan kedokteran. Salah satu jurusan yang sangat istimewa, karena selepas keluar dari kampus dan telah menempuh jalur spesialisasi, maka mahasiswa kedokteran selalu sudah di panggil Pak dokter atau Bu Dokter. Meskipun dia belum buka praktek dan belum mendapatkan pekerjaan di institusi kesehatan, dia akan tetap menjadi dokter yang pasti akan langsung di kerubuti para pasien. Maka sedikit saya kadang berpikir, alangkah hebat dan tinggi sekali profesi seorang dokter ini. Sudah cerdas berhati mulia lagi. Karena kalau tidak cerdas tidak mungkin dia akan masuk jurusan kedokteran. Sehingga saya selalu membayangkan semua dokter itu selalu mempunyai IQ yang setidaknya di atas manusia rata-rata seperti saya ini. Karena kalau dia tidak cerdas maka akan celakalah calon pasiennya kelak. Karena para dokter ini merupakan orang-orang cerdas, maka jarang kita mendengar adanya mal praktek. Kalaupun ada itu hanya segelintir kasus saja. Namun wajah medical kita tetap sumringah dan selalu memberikan penanganan masalah kesehatan kepada masyarakat dengan opti mal.
Untuk profesi lain secara kasat mata telah kita lihat tanda-tanda bahwa semakin banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dia miliki. Ada fakultas ekonomi yang jadinya makelar, sarjana hukum yang jadi tukang beras, sarjana ilmu pemerintahan jadi debt collector, dan banyak yang lebih tidak beruntung karena tidak kebagian pekerjaan. Sehingga mau tidak mau melakukan pekerjaan serabutan saja untuk mendatangkan uang dan agar tidak di cap sebagai pengangguran intelektual. Tidak ada jabatan yang lebih menyakitkan di dunia ini kecuali menyandang gelar tersebut.
Kembali pada tema kita kali ini, apakah selama ini bangku-bangku kuliah dapat menjawab persoalan hidup kita? Apakah buku-buku, diktat perguruan tinggi mampu memberikan jaminan akan masa depan kita? Ternyata sampai saat ini, tidak ada jaminan tersebut. Yang ada hanyalah persyaratan. Requirement yang harus kita penuhi sebagai pra-syarat mengetuk pintu perusahaan dan para pemegang modal.
Kita menjadi tidak taat kepada disiplin ilmu yang telah kita miliki, dan tunduk pasrah menyerahkan kepada para pemilik uang. Tentunya kita juga tidak semuanya menghilangkan ilmu kita untuk memasuki dunia kerja, tapi relevansi ilmu dan pengetahuan kita saat memasuki dunia kerja sungguh tidak ada sangkut pautnya. Ketika kita diterima menjadi suatu karyawan perusahaan, ternyata kita juga akan mendapatkan materi serta ilmu yang sesuai dengan lingkup pekerjaan itu. Lha terus kalau kita saja setelah selesai lulus kuliah, masih belajar lagi, artinya jelas bahwa gelar kesarjanaan kita sebagai tolak ukur kapasitas intelektual dalam diri kita menjadi tidak berlaku.
Saya sendiri kadang membayangkan, kenapa tidak dari bangku kuliah saja kita sudah mendapatkan materi-materi yang nantinya langsung kita terapkan dalam perusahaan atau pekerjaan kita? Kenapa kita harus membuang uang banyak terlebih dahulu hanya untuk sekedar melengkapi administrasi saja. Sungguh saya tidak pernah paham dengan mekanisme pendidikan kita.
Namun saya tidak berani menyarankan anda untuk tidak kuliah. Namun setidaknya pesan yang saya terima dari beberapa orang bijak dapat menjadi pertimbangan. Menjadi pintar ataupun sukses itu tidak dari guru ataupun dari buku. Namun menjadi pintar itu muncul dan harus tumbuh dari “dirimu”.

Gilang Prayoga
Purbalingga, 9 Maret 2012

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 8 March 2012, in Kolom Esai and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Setuju…
    Banyak kasus sarjana pertanian/teknik bisa diterima jadi teller bank, itu gmana jalan ceritanya?

    Jelas bentuk pelecehan terhadap keilmuan dan kesia-siaan belaka. Saya bisa jamin buku/diktat yang tebalnya naudzubillah ga akan dipakai di dunia karya/kerja. Kecuali profesi/pendidikan praktikum seperti kuliah dinas/politeknik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: