Monthly Archives: Maret 2012

Sikim

Sidang Tahunan MPR sudah bergulir. Media sibuk meliput, wawancara dan mengekspos. Para Pakar habis-habisan memeras akal untuk membaca, nguping, menyelami, menganalisa dan mengungkapkan. Anda sibuk apa? Konsentrasi perhatian dan pikiran Anda berapa persen yang Anda peruntukkan bagi ST MPR ini?

Demi Allah, sesungguhnya apa yang sedang diributkan di Senayan masih belum sungguh-sungguh ada hubungannya dengan tema-tema yang secara mendasar dibutuhkan oleh kebanyakan rakyat. Rakyat yang merupakan pemilik tanah air ini belum dijadwalkan sebagai agenda utama persidangan. Urusan mayoritas penduduk negeri ini bukan sesuatu yang dicemaskan dan diperdebatkan oleh wakil-wakil mereka.

Sidang orang-orang berdasi di menara gading Republik Indonesia itu tidak relevan terhadap peningkatan kemudahan hidupmu, dengan keamanan beras dan sekolah anak-anakmu. Yang sedang dipergunjingkan dengan biaya mahal di ruang-ruang mewah itu adalah perebutan senjata politik ekonomi untuk menjadi pusaka masa kini dan masa depan bagi golongan yang memenangkannya, atau bagi beberapa golongan yang untuk beberapa saat perlu bersatu untuk tujuan kepentingan yang sama.

Anda petani di darat atau di laut, teruskan mencangkul dan menjala sebisa-bisa, sebab apapun hasil sidang tahunan ini tidak menjanjikan perubahan nasib apapun ke arah yang lebih menggembirakan. Rakyat adalah barang tunggangan. Semua orang besar memasuki habitat raja-raja dengan perkutut-perkututnya: dan kalian semua adalah perkutut-perkutut di dalam sangkar kekuasaan dan penipuan juragan-juraganmu. Read the rest of this entry

Iklan

PERANG MINYAK

Perang minyak telah di tabuh. Demo kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) serentak dilaksanakan di kota-kota besar Indonesia, yang di prediksi akan memuncak pada hari Selasa (27/3) bersamaan dengan rapat paripurna DPR. Gelombang penolakan rakyat atas rencana pemerintah itu telah membuat apa yang di sebut para ekonom sebagai multiplier effect. Sebelum kenaikan harga BBM di yang akan di tetapkan per tanggal 1 April 2012 telah di dahului oleh harga-harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi. Para mahasiswa kembali turun ke jalan, menggalang massa untuk menyuarakan penentangan kenaikan BBM. Mereka mengadakan koalisi dengan seluruh rekan se-Indonesia dengan di dukung oleh ormas, lembaga-lembaga independent, dan berbagai macam elemen yang memiliki visi yang sama. Setelah sebelumnya dilakukan beberapa demo secara parsial dan sporadic di Indonesia, mereka telah merencanakan unjuk rasa kembali secara massive yang akan di pusatkan di depan gedung DPR.

Menyikapi hal tersebut Pemerintah sigap untuk menghadang rencana “perang” massa itu dengan memerintahkan POLRI dan TNI untuk menjadi garda depan. Meskipun menjadi problematic sendiri ketika TNI harus turun tangan mengamankan para pendemo. Banyak pihak menilai pengerahan TNI tidak sesuai dengan fungsinya. Yang seharusnya berfungsi untuk menjaga atau mengamankan kedaulatan NKRI dari pihak asing, ini malah di hadapkan kepada rakyat sendiri. Dan yang terjadi adalah benturan yang berujung kekerasan. Meskipun ada nada-nada sumbang bahwa itu terjadi karena ada provokasi, karena di tekan duluan atau apapun saja. Namun yang pasti, moment tersebut membuat kepercayaan publik kepada pemerintah SBY merosot tajam. Pertanyaannya adalah apakah mengemukakan ketika rakyat mengemukakan pendapatnya lantas sudah mesti dituduh subversif? Apakah ketika melaksanakan demonstrasi, sudah di curigai akan melakukan perusakan-perusakan atau penjarahan massal. Ataukah merupakan ketakutan penguasa negeri ini akan terjadinya demonstrasi seperti 1998.

Para penuntut penolakan, partai oposisi, menyatakan bahwa ini merupakan pembohongan publik. Mereka mengklaim bahwa dengan perhitungan mereka, APBN negara tidak akan jebol meskipun harga BBM mencapai 125 US Dollar per barel. Bahkan selama ini pemerintah cenderung tertutup atas hasil penjualan minyaknya. Mereka mengemukakan Read the rest of this entry

Dahlan Iskan, Protokoler Kenegaraan dan Penghancuran Politik Pencitraan

Di headline News pagi tadi (20/3), media online ramai memberitakan kembali sepak terjang Menteri BUMN. Pak Menteri mencak-mencak di Pintu Tol Semanggi arah ke Slipi karena terjadi antrean panjang mobil yang akan masuk ke Pintu Tol. Padahal beliau sudah sering menginstruksikan kepada Jasa Marga, agar antrean dalam pintu tol maksimal adalah 5 mobil. Namun ketika pagi itu beliau ikut terjebak dalam antrean panjang 30 mobil, dan melihat ada dua pintu dari empat pintu yang tidak di fungsikan, beranglah Pak Menteri. Beliau keluar dari mobil dan masuk dalam loket yang tidak ada operatornya dan serta merta membuang kursi yang ada di dalamnya. “Tidak ada gunanya kursi ini,” Ujar beliau di kutip dari Humas Kementrian BUMN. Bahkan untuk menormalisasikan antrean panjang yang terjadi, beliau sempat menggratiskan kurang lebih 100 mobil. “Kalau Jasa Marga merasa rugi, suruh tagih ke saya,” katanya.

***

Kejadian tersebut menjadi catatan tambahan dari sepak terjangnya selama ini yang yang dianggap out of mainstream dari pelaku para pejabat publik di negara ini. Di tengah gelombang hipokrisi dan megalomania yang tinggi, Dahlan Iskan hadir dengan terobosan serta akselarasi yang mengundang perhatian khalayak. Beberapa kali beliau membuat keputusan dan tindakan yang tidak lazim dilakukan. Meskipun banyak yang memuji, namun tidak sedikit pula yang mencibir adanya pencitraan di balik semua itu. Read the rest of this entry

Kenaikan Harga BBM: SBY Untung Rakyat Buntung

Saya Rieke Diah Pitaloka, sekedar mengingatkan 13 hari lagi adalah keputusan kenaikan harga BBM. Salah satu argumen SBY, kenaikan tersebut adalah untuk menyelamatkan APBN supaya tidak jebol.

Berikut saya sampaikan data yang tidak pernah SBY sampaikan kepada rakyat, hitungan yang sesungguhnya bahwa dengan tidak mengurangi subsidi dan tidak menaikan harga BBM sebetulnya APBN tidak jebol.

Berikut ini data yang saya kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari para ekonom yang tidak bermahzab neolib! Read the rest of this entry

Lowongan Dosen Universitas Brawijaya

Lowongan Dosen Tetap Non-PNS Program Studi Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya membuka lowongan untuk menjadi Calon Dosen Tetap Non-PNS pada Program Studi Ilmu Pemerintahan, dengan kualifikasi sebagai berikut: Read the rest of this entry

Corporate Inertia

Dalam berbagai kesempatan, saya sering menggambarkan transformasi suatu organisasi itu seperti kita mengayuh sebuah sepeda tua. Kalau kita mengayuh sepeda, awalnya pasti akan terasa berat. Sekayuh-dua kayuh, satu putaran roda, dua putaran, tiga putaran, makin lama kayuhan kita menjadi makin ringan seiring makin lajunya gerak sepeda. Dan akhirnya, jika si sepeda sudah mencapai kecepatan puncaknya, kayuhan itu menjadi demikian ringannya seperti mengayuh udara hampa.

Transformasi kira-kira berlangsung seperti itu. Awalnya memang amat berat dan sulit, tetapi begitu bergulir sepertinya  semuanya menjadi gampang. Bahkan, kita akan menghadapi suatu kondisi point of no return, yaitu transformasi  organisasi bergulir dan melaju tak mengenal berhenti.

Kalau demikian adanya, tantangan terberat sebuah proyek transformasi berada di awal ketika kita memulainya. Mengapa  demikian? Sebab, biasanya, pada saat-saat awal ini status quo sistem dan paradigma lama sudah begitu mengeras  sehingga sulit dicairkan dan secara psikologis orang-orang merasa berada dalam comfort zone sehingga mereka
umumnya memiliki sense of crisis yang rendah. Kalau sudah begini, biasanya penolakan (denial) dan resistensi  (resistance) dari orang-orang di dalam organisasi untuk berubah menjadi sangat tinggi.

Celakanya, proses awal transformasi ini adalah momentum yang sangat penting dan kritikal bagi bergulirnya proses  transformasi berikutnya. Begitu gagal di awal, jangan harap kondisi point of no return yang saya uraikan di depan bisa  berlangsung. Proyek transformasi yang digulirkan akan berjalan merayap, terkatung-katung, moral dan energi orang-orang
di dalam organisasi akan melempem, dan kondisi terjeleknya adalah organisasi akan set back, kembali ke status quo  awal. Itu artinya transformasi jalan di tempat. Read the rest of this entry

M Yunus : Pembebas Orang-orang Miskin dan Lemah

Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. M-Yunus

Muhammad Yunus dan Grameen Bank Bangladesh meraih Nobel Perdamaian 2006. Di tahun ini, untuk pertama kalinya, pemenangnya bukanlah selebriti yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figure dan badan yang dijagokan, tetapi yang peduli pada pemberdayaan orang-orang miskin dan lemah dan wanita. Ini untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian 2006 di Dhaka Bangladesh. “Ini penghargaan bagi kaum miskin!” seru Muhammmad Yunus (66), pendiri Bank Grameen yang kini memiliki 2.226 Cabang di 71.371 desa dan mamu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin.

Hingga detik-detik terakhir, Muhammad Yunus sama sekali tidak disebut-sebut berpeluang menerima hadiah Nobel Perdamaian 2006. Banyak kalangan menjagokan mantan presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang berjasa meredakan konflik Aceh. Tokoh lain yang dijagokan adalah Mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans yang berjasa merekonstruksi Kamboja da Vietnam; aktivis etnik Uighur Rebiya Kadeer yang menuduh Pemerintah China menyiksa orang Uighur di barat daya Xinjiang; dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Asle Sveen, seorang sejarawan Norwegia mengatakan, “Ini adalah untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan sendiri apresiasi itu. Sudah terlalu banyak nominasi bagi pihak-pihak yang melerai konflik-konflik. Kini Komite Nobel makin berihak kepada upaya pencegahan perang yang paling fundamental. Mengupayakan perdamaian tidaklah cukup, perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan. Salah satu penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan, harus diatasi mulai dari akarnya,’ kataSteven.

Kiprah Yunus memberdayakan orang-orang miskin dan lemah telah dilkukannya sejak tahun 1974. Ketika itu, sebagai professor ekonomi di Universtas Chittagong, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Betapa kagetnya Yunus ketika dia menyaksikan warga miskin di desa-desa berjuang lolos bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu dan telah menewaskan ratusan riu orang. Selanjutnya, sebagai akademisi Yunus pun merasa berdosa. “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan,” kata yunus.

“Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tiak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kamu. Sejak itu saya putuskan orang-orang miskin dan lemah hatus menjadi guru saya,’ tambahnya. Dari perasaan bersalah itu, laki-laki kelahiran Chittagong tahun 1940 itu mulai mengembangkan konsep pemberdayaan. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing untuk mencari ikan sendiri.

Read the rest of this entry

Esemka=No, Maleo=Yes

Biasanya siapa yang mengkritisi mobil Esemka akan dianggap tidak punya rasa  nasionalis.  Hehehe 🙂 Tapi ya sudah lah. Bangsa ini memang butuh kejujuran daripada nasionalisme buta. Bukan cerita baru kalau sebagian dari kita susah menerima kritik.

Dari awal gembar-gembor mobil Esemka di-mobnas-kan sebenarnya saya sudah tidak percaya kalau mobil tersebut “dibuat” bukan “dirakit”. Sebelum mobil tersebut dipakai oleh pejabat daerah, liputan pertama yang saya tonton di TV, jelas-jelas menunjukan  anak SMK-SMK yang masih jujur dan lugu itu mengatakan kalau mereka merakit mesin dari kendaraan lain. Bahkan salah seorang dari mereka menyebutkan merek mobil tertentu sambil memperlihatkan blok mesin.  Selain itu, jelas-jelas, spanduk di lokasi kerja para anak SMK itu (yang muncul di TV) menyebutkan “tempat perakitan”. Anak-anak SMK yang jujur itu tidak pernah menuliskan “Pabrik Mobil”.

Entah kenapa, ketika pejabat sudah punya misi politis, semuanya berubah. Anak-anak SMK yang jujur bahwa mereka hanya belajar merakit, tiba-tiba tenggelam dan posisinya digantikan para pejabat yang pintar bermain kata-kata dan mencari popularitas.

Saya pernah bekerja di salah satu FMCG company. Dan setiap saya membuat  produk baru, saya harus menyiapkan design botol baru yang nanti akan dibuatkan mouldingnya. Sayang tidak terbayangkan berapa nilai investasi yang harus dimiliki seorang Sukiyat dibengkel  karoseri-nya atau anak-anak SMK untuk bisa memiliki peralatan membuat mobil, kalau untuk sebuah moulding botol PET 8 cavity saja, saya bisa menginvestasikan sampai 2 milyar rupiah.

Sekarang, apakah kalau anak-anak SMK itu ternyata cuma tukang rakit, itu hina?  Tentu tidak! Sebenarnya, saya pikir tidak masalah kalau mobil itu hanyalah mobil rakitan dari mobil China bernama Fudi Explorer 6 yang sudah dipasarkan sejak 2009 (note: seorang teman yang berada di salah satu pasar di negeri China mengambil gambar-gambar kendaraan ini). Apa salahnya kalau anak-anak SMK belajar merakit mobil? Tidak ada yang salah! Yang salah adalah pejabat yang memanfaatkan anak-anak SMK dan kata “Nasionalisme”.

Kita masih ingat kasus masuknya Timor dan Bimantara? Mobil-mobil Korea yang di_mobnas-kan? Bahkan saking suksesnya kata-kata mobnas menempel pada mobil-mobil yang punya merek asli Kia dan Hyundai ini, proyek Maleo yang sebenarnya adalah proyek mobil anak bangsa yang digagas Habibie  jadi terlupakan.

Buat para tenaga pemasaran di dunia otomotif, memainkan kata,”Nasionalisme” adalah kartu sakti yang bisa membuat proyek import mobil China berjalan mulus dan sukses di pasar Indonesia. Dengan embel-embel nasionalisme, orang bisa menutup mata akan atribut kualitas. Dalam marketing, A bisa jadi B dan sebaliknya. Orang-orang marketing tentunya paling ahli bermain kata-kata. Tapi setidaknya produsen Timor dan Bimantara masih memiliki nilai kejujuran. Mereka tidak pernah malu menyebut kata “merakit”. Bahkan ketika mereka dengan lirih menyebutkan kandungan lokal yang masih rendah. Setidaknya mobil Korea yang di-mobnas-kan, masih bermain cantik.

Kebetulan Timor adalah mobil pertama di keluarga saya. Apakah ketika saya mengendarai Timor, saya bangga karena mobil tersebut adalah mobil “asli indonesia”? Tentu tidak! Keluarga saya membelinya karena murah dan saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau mobil tersebut hanyalah  mobil Korea yang bagian joknya dibuat oleh orang indonesia. Apakah saya tidak punya rasa bangga dengan karya anak bangsa? Saya pribadi lebih bangga memamerkan baju batik sederhana yang asli “indonesia banget” daripada produk asing yang “di-indonesia-indonesia-kan”.

Pejabat “gila hormat” ternyata tidak hanya ada di pulau jawa. Baru-baru ini, kapala daerah salah satu propinsi di sumatera gantian memamerkan pabrik di lingkungan SMK yang katanya bisa digunakan untuk membuat onderdil mobil. Pejabat itu dengan bangga berkata kalau mereka “membuat” bukan merakit, padahal di layar TV jelas-jelas tampak merek Krisbow dan Focus (sudah dikenal sebagai produk negara lain). Tidak kurang pongahnya, si kepala daerah langsung memamerkan sebuah mobil (belum ada body-nya) yang katanya buatan anak SMK di propinsinya. Walau jelas-jelas ada merek Toyota di bagian mesin yang terlihat terang bernderang. Mungkin di minggu-minggu depan, SMK ini juga akan terkenal seperti sekolahan yang “memproduksi” Esemka.  Kalaupun nanti mereka mengklaim, sebagai pembuat produk asli indonesia, saya hanya akan tersenyum sambil mengingat merek-merek Krisbow, Focus dan Toyota yang baru saja saya lihat di liputan berita hari ini.

Melihat kepongahan beberapa pejabat, saya justru iba. Iba dengan rendahnya standar mereka. Dari standar kejujuran sampai standar kualitas dari sesuatu yang bisa disebut sebagai produk nasional. Akhirnya, satu pertanyaan yang ingin saya ajukan, apakah para pejabat yang mengatakan Esemka itu buatan anak bangsa padahal cuma “rakitan” adalah pahlawan? Kalau begitu, harusnya predikat yang sama bisa kita berikan kepada salah satu anak mantan presiden Soeharto yang telah melahirkan mobnas pertama bernama Timor jauh-jauh hari sebelumnya. Harusnya beliau patut dihormati lebih dari seorang Habibie yang proyek Maleo-nya tidak pernah mendapatkan perhatian serius.

Bagaimana dengan hari ini? Selain pejabat yang sedang me-mobnas-kan mobil China, tahukah anda kalau para peneliti kita di LIPI sedang berjuang untuk sebuah mobil listrik yang kelak akan bisa diproduksi oleh anak bangsa? Mungkin mobil buatan LIPI tidak sehebat mobil buatan China atau Korea. Tapi dari sana lah mobil nasional yang sebenarnya akan muncul. Bukan sekedar mobil import dari Jerman, Amerika atau Jepang yang dirakit dan dikasih merek lokal.  Seperti dejavu Timor vs Maleo hehehehe… Akhirnya pemerintah kita memang lebih senang meng-import.

Soal merek lokal, saya jadi teringat saat saya harus membeli puluhan mesin cuci dari China untuk hadiah (sebuah program undian nasional). Ketika sayasedang memeilih-milih, saya sempat bertanya,” apakah saya bisa dapat merek lokal?” Jawaban yang saya dapat dari tuan toko adalah: Bapak mau merek apa? Nanti saya tempel, bahkan bisa pakai nama Bapak. Apapun mereknya, mesinnya tetep China. Bahkan bisa dikasih merek ‘pancasila’ atau ‘merah putih’ biar terlihat merek lokal. LOL

Dari tulisan di atas, bisa disimpulkan kenapa saya tidak bangga dengan Esemka. Seandainya proyek “mobnas asli” seperti Maleo diteruskan, tentu saya lebih punya rasa bangga. Walau Maleo akhirnya kandas (karena kepentingan tertentu), saya masih bisa mengingat hasrat dan kebanggaan yang berbeda sebagai anak-anak waktu itu . Semoga kelak, Indonesia bisa benar-benar memiliki mobnas yang sesungguhnya ketika para pejabat kita bisa membedakan antara “membuat” dan “merakit”.

Oleh : Uki Lukas

Sumber : Kompasiana

Kuliah itu Ternyata “Tidak” Penting

Bila membaca judul di atas mungkin kita akan sedikit mengernyitkan dahi. Karena dimanapun, entah di jaman dahulu atau atau sekarang, entah di kota atau di desa, entah kaya atau miskin, kita semua bersepakat bahwa melanjutkan kuliah itu merupakan suatu hal yang penting, yang kita upayakan sedemikia rupa agar kita dapat menikmati empuknya bangku kuliah. Meskipun lading atau hewan ternak orang tua kita menjadi tebusan. Yang penting cita-cita kuliah itu harus nomor satu, karena beberapa alas an. Tentunya yang pertama adalah mendukung program pemerintah untuk wajib belajar. Kedua, dengan kuliah kita mendapatkan sebuah ijasah dan gelar yang tidak semua orang berhak menyandangnya. Sehingga akan sedikit banyak meningkatkan gengsi dan harga diri kita di hadapan calon mertuan kita kelak. Dan Ketiga adalah dengan kuliah kita mendapatkan pintu untuk mengakses pintu-pintu perusahaan bonafide, meskipun alas an yang ketiga ini masih bisa di perdebatkan karena fakta empiris saat ini malah sarjana pengangguran sangat tinggi sekali. Sehingga kita bisa alas an kembali kaitannya dengan pentingnya kuliah, “ Kalau yang sarjana saja sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi yang Cuma lulusan SMP dan tidak sekolah”. Maka kita diam-diam juga ok untuk mendukung gerakan untuk kuliah.
Meskipun juga harus ada argument-argument klise seperti kuliah itu untuk menuntut ilmu, menguak rahasia keajaiban alam yang terhampar. Menjadi sang pencerah dalam membaca tanda alam melalui ilmu pengetahuan. Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui riset-riset ilmiah.
Namun mayoritas ketika di telusuri lebih dalam lagi, ujungnya adalah sama: setidaknya nanti dengan kuliah dapat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih dari layak. Untuk urusan ilmu pengetahuan, itu kita pinggirkan untuk menjadi kosmetik wajah ketika kita berhadapan dengan orang lain. Sepenuhnya kita lebih berharap kepada pengakuan saja yang tercetak dalam lembaran ijasah. Read the rest of this entry

Proses Partisipatif Vs Proses Politis dan Teknokratis

Geliat pemberdayaan yang telah berlangsung selama ini cukup memberikan dampak yang positif bagi kemandirian dan pembangunan di masyarakat. Dengan konsep block grant pendanaan di tingkat kecamatan yang di alokasikan dari share antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, membuat masyarakat yang dulunya hanya menjadi objek pembangunan secara perlahan-lahan bertransformasi untuk menjadi subjek pembangunan. Dengan pelimpahan kewenangan yang di atur dalam Undang-Undang Otonomi Daerah, masyarakat berperan untuk menjadi pelaku utama pembangunan yang dilaksanakan secara swakelola dan partisipatif. Berpartner dan berdialektika dengan pemerintahan untuk menumbuhkembangkan kemandirian masyarakat.

PNPM yang hadir membawa bendera pemberdayaan yang mempunyai muatan-muatan perencanaan bottom up, merupakan jawaban dari semakin tidak menentunya proses perencanaan pembangunan kita.  Kegiatan Musrenbanbag (Musyawarah Rencana Pembangunan) yang mendasari dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai banyak kelemahan dalam pelaksanaannya.

Musrenbang yang sejatinya menjadi proses perencanaan pembangunan, banyak menuai kritik dari para delegasi masyarakat. Proses transparansi yang minim dan penuh retorika politik membuat Musrenbang semakin ompong giginya untuk menjawab persoalan masyarakat.

Dalam tataran konseptual, tidak ada yang salah dalam mekanisme perencanaan ini. Setelah di lakukan sosialisasi Pra Musrenbang oleh Bappeda, maka masyarakat segera melakukan penyelenggaraan musyawarah untuk menentukan arah pembangunan desa mereka dengan mengacu kepada Penggalian Keadaan Desa (PKD) yang dilakukan sebelum Musrenbangdes. Dalam PKD, minimal aspirasi masyarakat telah di akomodir semuanya yang akan menjadi landasan dalam pembuatan RPJMDes maupun RKPDes. Setelah siap dengan data-data potensi, masalah dan usulan, maka usulan akan di ajukan untuk di prioritaskan perencanaan satu tahun mendatang. Usulan-usulan itu akan di tampung dan di akan di naikkan di tingkat Kecamatan.

Sampai disini belum ditemukan masalah yang cukup berarti dalam melakukan prosesnya. Masalah yang mungkin timbul secara klise adalah dari kualitas mutu usulan masyarakat desa. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya karena bagaimanapun SDM mereka terbatas, masih lugu dan mungkin tidak paham dengan mekanisme yang sedang meraka jalani. Mereka hanya mengkhayalkan proyek yang akan hadir di desa mereka seperti yang sering di janji-janjikan bapak-bapak yang berseragam. Jangan di tanya, apakah proyek itu mampu mengentaskan kemiskinan atau tidak, mampu menjawab masalah yang mendesak ataupun mampu meningkatkan aspek kesejahteraan bagi mereka atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah datang, mendengarkan, manggut-manggut dan pulang.

Read the rest of this entry