Monthly Archives: Januari 2012

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

ADA kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh. Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah rakyat, tetapi kalau ada penguasa, maka yang dimaksud dengan rakyat tentu mereka yang dikuasai. Rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum saleh Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis, rakyat selalu adalah pihak yang diatur pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang amat besar untuk bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta amat mencurigakan dipandang dari rasionalitas dan proporsi manajemen kenegaraan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak untuk menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat adalah wilayah terapan hukum. Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan di hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut harus dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan. PANDANGAN ini amat laknat terhadap kenyataan bahwa sebenarnya rakyat adalah pemilik kekayaan amat melimpah dari tanah rahmat Tuhan bernama Republik Indonesia. Namun, kekayaan rakyat itu dijadikan langganan perampokan oleh tiap penguasa. Dan setiap penguasa selalu tidak tahu diri berlagak menjadi  pahlawan yang akan melakukan perubahan dari kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin. Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia, rakyat Indonesia memang rata-rata miskin, namun kenyataannya rakyat adalah pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfer kejahatan negaranya sehingga aneka upaya berekonomi kerakyatan itulah yang berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total. Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas kesejahteraan rakyat, menikusi administrasi keuangan negara milik rakyat, mencuri dengan berjemaah dan dengan modus-modus yang makin tidak kasatmata. Namun, ubet ekonomi rakyat, “budaya kaki lima” yang cair dan longgar, menciptakan semacam “pernapasan dalam” yang membuat rakyat terus survive meski hampir tak ada suplai udara dari
negara. Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, para penjahat penunggang Negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian  besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan manajemennya kepada negara. Namun, ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri mereka dari kebangkrutan total. Meski demikian, siapa pun yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan keangkuhan luar biasa, menyatakan akan dan sedang menyelamatkan rakyat dari kebangkrutan.
KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagaiorang pandai, merancang diri untuk melakukan pemandaian atas rakyat. Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan rakyat. Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat melek dunia. Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak anggapan diam-diam di dalam dirinya, mulai hari itu ia melangkah meninggalkan kebodohan rakyat yang kemarin masih jadi bagian darinya. Kapan ada rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku utama. Sebab, agent of change mustahil pelakunya adalah rakyat.

DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang mungkin Tuhan pun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang saleh. Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi mereka dipastori, siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat keahlian dan
kemampuannya melebihi rakyat. Jika Quran menyebut “berimanlah kepada Allah”, yang dituju adalah rakyat, bukan ustadz atau ulama. “Wahai orang-orang kafir”-itu kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiai. “Dekatkanlah dirimu kepada orang saleh”- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat mendekat-dekat kepada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan belajar kepada umat. Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, namun dengan
parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa bakul pasar.

Read the rest of this entry

Iklan

Misteri Emas Batangan Ir. Soekarno

Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John Fitzgerald Kennedy. Konon penembakan John F Kennedy pada November 1963 yang membuatnya tewas secara tragis lantaran menandatangani perjanjian tersebut.

Konon pula penggulingan Ir Soekarno dari kursi kepresidenan wajib dilakukan jaringan intelijen AS disponsori komplotan Jahudi (Zionis Internasional) yang tidak mau AS bangkrut dan hancur karena mesti mematuhi perjanjian tersebut juga tidak rela melihat RI justru menjadi kuat secara ekonomi di samping modal sumber daya alamnya yang semakin menunjang kekuatan ekonomi RI. selain itu ada beberapa tujuan lain yang harus dilaksanakan sesuai agenda Zionis Internasional. Berikut ini saya coba tulis hasil penelusuran pada tahun 1994 s/d 1998, berlanjut tahun 2006 s/d 2010, ditambah informasi dari beberapa sumber. Tapi mohon diingat, anggap saja tulisan ini hanya penambah wawasan belaka.

Perjanjian itu biasa disebut sebagai salah satu ’Dana Revolusi’, atau ’Harta Amanah Bangsa Indonesia’, atau pun ’Dana Abadi Ummat Manusia’. Sejak jaman Presiden Soeharto hingga Presiden Megawati cukup getol menelisik keberadaannya dalam upaya mencairkannya.

Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva dibuat dan ditandatangani pada 21 November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F Kennedy (beberapa hari sebelum dia terbunuh) dan Presiden RI Ir Soekarno dengan saksi tokoh negara Swiss William Vouker. Perjanjian ini menyusul MoU diantara RI dan AS tiga tahun sebelumnya. Point penting perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen keberadaan emas murni batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket emas dan pemerintah RI (selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa penggunaan kolateral dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.

Dalam point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian ; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November 1965 (dua tahun setelah perjanjian). Account khusus akan dibuat untuk menampung asset pencairan fee tersebut. Maksudnya, walau point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan dalam dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya.

Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas restu Sri Paus Vatikan. Sedang pelaksanaan operasionalnya dilakukan Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam dua tahun ke depan sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut, yakni pada 21 November 1965.

Namun pihak-pihak yang menolak kebijakan John F. Kennedy menandatangani perjanjian itu, khususnya segelintir kelompok Zionis Internasional yang sangat berpengaruh di AS bertekat untuk menghabisi nyawa dan minimal karir politik kedua kepala negara penandatangan perjanjian itu sebelum masuk jatuh tempo pada 21 November 2965 dengan tujuan menguasai account The HEF tersebut yang berarti menguasai keuangan dunia perbankan.

Target sasaran pertama, ’menyelesaikan’ pihak I selaku pembayar, yakni membuat konspirasi super canggih dengan ending menembak mati Presiden AS JF Kennedy itu dan berhasil. Sudah mati satu orang penandatangan perjanjian, masih seorang lagi sebagai target ke II, yakni Ir Soekarno. Kaki tangan kelompok Zionis Internasional yang sejak awal menentang kesepakatan perjanjian itu meloby dan menghasut CIA dan Deplu AS untuk menginfiltrasi TNI-AD yang akhirnya berpuncak pada peristiwa G30S disusul ’penahanan’ Soekarno’ oleh rezim Soeharto. Apesnya lagi, Soekarno tidak pernah sempat memberikan mandat pencairan fee penggunaan kolateral AS itu kepada siapa pun juga !! Hingga beliau almarhum beneran empat tahun kemudian dalam status tahanan politik.
Read the rest of this entry

Antara Profesi dan dedikasi

Kadangkala kita sebagai warga negara biasa yang tidak mempunyai jabatan dan pemangku kepentingan di sebuah lembaga instansi yang bonafide, atau katakanlah tidak menjadi bagian dalam sebuah struktur pemerintahan di negeri ini seringkali mengungkapkan nada-nada minor tentang pegawai negara atau lazimnya yang kita sebut sebagai pegawai negeri sipil. Kita seringkali iri begitu melihat hal-hal yang menyangkut kesejahteraan untuk para PNS tersebut. Kerja sudah enak, berangkat bisa jam berapa saja, mau masuk atau tidak juga tidak masalah, sampai kantor tidak tahu apa yang mau di kerjain sehingga seringnya hanya duduk ngobrol, merokok bas-bus, minum teh dan makan minum d warung sampai lepas tengah hari dan setelah itu bisa pulang dan menikmati keharmonisan di keluarga atau meneruskan berbelanja d mall.
Kalau kita orang awan atau orang Non-PNS menderet ke-enakan manjadi PNS, akan banyak sekali daftar yang kita temukan. Namun apabila sebaliknya kita mendaftari ke-susahannya menjadi PNS, sedikit sekali yang kita temukan, atau bahkan tidak menemukan sama sekali. Karena catatan-catatan kita seringkali masih d susupi dengan iri dengki dan ingin mencari keburukan orang. Hmm..kata orang, sudah manusiawi.
Namun, cerita dari seorang sahabat di negeri seberang ternyata malah berbanding terbalik dari analisa umum masyarakat tentang PNS. Dia sosok seorang pekerja yang brillian, cerdas dan berdedikasi. Dia pandai melakukan analisa perencanaan, pintar dalam statistika, memiliki pemahaman akuntansi dan perbankan yang bagus, dan juga mempunyai keahlian sebagai seorang supervisor yang handal. Namun yang lebih hebat dari itu semua adalah integritas moralnya, kebersihan hatinya dan kejujuran perilakunya. Singkat kata dia adalah seorang pekerja profesional yang cerdas, bertakwa dan berakhlak mulia, persis seperti harapan Bangsa Indonesia kepada para pemuda dan pemudinya.
Segala keunggulannya tersebut membuat dia jadi center of excellent d kantornya, namun keunggulannya itulah yang membuat dia menjadi “celaka”. Ketika dia mampu menyelesaikan segala tugas yang di embankan kepadanya dengan gilang gemilang, maka lambat laun segala tugas dengan seenaknya di bebankan kepada dia. Apa saja yang berbau tugas, langsung dialah yang jadi sasaran tembaknya untuk mengerjakan. Sahabat saya itu sudah mencapai tataran “trust” alias dapat di percaya. Sehingga apapun yang dia kerjakan, pasti akan mendapatkan pengakuan dari atasannya. Sehingga tidak ada yang salah ketika atasannya mempercayakan tugas-tugas penting kepada dia. Sekali dua kali dia menikmati pekerjaan itu. Namun ketika hal tersebut berulang kali, berminggu-minggu, bulan berganti, tahun berubah namun juga tidak ada perbedaan, dia merasa tugasnya itu mencekik leher. Ketika sudah hampir mencapai puncak beban kerja dia menjadi drop dan ternyata apa yang dia kerjakan ternyata malah menyusahkan dirinya.
Memang, alangkah menyedihkan ketika melihat suatu perusahan, suatu organisasi, suatu lembaga, suatu badan atau apapun yang merupakan sekumpulan orang yang bekerja bersama-sama untuk mewujudkan visi dan misinya bersama pula sesuai dengan tujuan awalnya, namun dalam praktek pekerjaannya terpusat pada satu titik. Kalau umpamanya Dinas, instansi, kementrian tidak di bedakan fungsinya, maka alangkah sangat semrawutnya. Kalau umpamanya Kemendiknas malah mengerjakan atau mengurusi masalah kasus Prita, atau masalah TKW ya mungkin tidak nyambung. Meskipun ada beberapa hal yang bisa d kerjasamakan. Namun tidak semuanya jenis kegiatan pembangunan dapat di kerjakan oleh satu lembaga saja. Makanya butuh manajemen. Butuh pengaturan. Butuh tatanan, sistem yang mengatur segala sesuatunya tersebut. Kalau dalam bahasa kampusnya adalah Manajemen Perusahaan. Kalau perusahaan, organisasi ada menajemennya begitu pula diri kita. Itulah profesionalisme. Yang tujuannya juga sama yaitu untuk mengefektifkan segala suatu menyangkut pengerjaan.
Nah apa yang di alami sahabat kita ini adalah disorientasi manejemen baik skala individu maupun perusahaan.
Itu merupakan gejala yang umum di hampir semua lembaga-lembaga kita. Bawahan yang kita anggap pandai dan cekatan selalu kita forsir dengan beban kerja yang terkadang sampai tidak manusiawi. Berjuta-juta buruh prabrik di perkerjakan tidak sebagai seorang manusia tapi tidak lebih di anggap seperti mesin robot. Masih mending kalau mesin rusak trus di perbaiki, d ganti onderdilnya, di perbaiki kekurangannya, terkadang buruh, TKW, bawahan, staf, outsourcing, pekerja kontrak malah tidak di perbaiki namun malah di buang. Meskipun sahabat kita yang PNS itu, tidak seburuk teman-teman yang lain yang langsung di buang, karena jarang ada PNS yang kena PHK. Namun konsekuensinya dialah yang akan dijadikan avant garde segala tuntutan tugas.
Belum lagi di tambah dengan masalah kesenjangan antar pekerja, metode sikut-sikutan, cari muka yang sudah lazim itu akan menjadi suasana kerja bukan menjadi tempat yang nyaman malah menjadi tempat yang mengerikan. Yang pandai ngeri melihat tugas yang semakin menggunung, yang bodoh takut tidak mendapat pekerjaan sehingga harus menjegal sesama teman.
Tapi, ternyata dia melakukannya adalah karena dedikasi dan tanggungjawab moral. Dan Dedikasi serta tanggung jawab moral tidak ada sangkut pautnya dengan PNS atau tidak. Tanggungjawabnya adalah kepada diri sendiri dan martabatnya.

N. Gilang Prayoga
Bukateja, 29 Juli 2011

Lomba Bercerita PNPM Mandiri 2011-2012

30 November 2011 pukul 0:00 sampai 31 Maret pukul 0:00

Seluruh Indonesia

Apakah PNPM Mandiri membawa perubahan positif bagi diri Anda? Keluarga Anda? Kepala Desa Anda? Kegiatan bermasyarakat di wilayah Anda?

PNPM Mandiri mengundang Anda untuk berbagi cerita mengenai perubahan-perubahan positif yang terjadi pada diri dan lingkungan Anda karena adanya PNPM Mandiri…

Lomba ini terbuka bagi siapa saja: Kader, Fasilitator, Pelaku PNPM di desa dan kecamatan sangat dianjurkan untuk mengikuti lomba ini.

Cerita yang disampaikan tentu saja yang terkait dengan PNPM Mandiri. Bisa tentang apapun terkait PNPM Mandiri, termasuk perubahan pada diri sendiri, perubahan pada diri orang lain (yang Anda ceritakan), perubahan pada organisasi atau lembaga-lembaga yang ada, serta pada masyarakat di wilayah Anda.

Tidak dapat menulis dengan baik? TIDAK PERLU kuatir. Karena Lomba bercerita ini dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, baik Tulisan (tangan), tulisan (mesin tik), Foto (dengan keterangan), Film Sederhana (dari telepon genggam atau alat lain), Rekaman Suara (dari telepon genggam atau alat lain), atau media lain sesuai kreativitas Anda…

Bisa, kan???

Catat dateline-nya… Kami tunggu cerita Anda selambat-lambatnya 31 Maret 2012 !!!

Ayo, bagikan cerita positif Anda, biarkan Indonesia mengetahui dan belajar dari perubahan positif di wilayah Anda. Kirimkan ke:

PO. BOX 6159 Jakarta Pusat
atau
komunikasi@pnpm-mandiri.org

Subject: Lomba Bercerita PNPM Mandiri
Sertakan: Nama, Alamat, Nomor Telepon/HP, Alamat Email (jika ada)
Info lebih lengkap:

http://www.facebook.com/groups/9996606678/doc/10150690293031679/

Leher Kambing si Miskin

Sukses kampanye tauhid Rasululiah terutarna karena mengandalkan uswatun khasanah: teladan hidup yang bersih dan konsisten. Tak banyak omong. Mulut beliau Terpelihara. Beda dengan hobi kita sekarang.

Memang, asyiknya Nabi utusan Tuhan terakhir, Muhammad Saw., ini bukan hanya karena beliau itu manusia lumrah raja, aba ahadin min-kum (sebagaimana bapak anak-anak pada umumnya). Bukan karena karakter kerasulan beliau serius mengandalkan mukjizat atau kasekten yang aneh-aneh. Namun yang paling mengasyikkan adalah bahwa putra Abdullah ini buta huruf dan mernilih hidup melarat.

Pada suatu hari datang bertamu kepada beliau seorang anak yang menyampaikan pesan ibunya agar Nabi memberikan sesuatu kepadanya. Nabi berkata, “Hari ini kami serumah tak punya apa-apa.” Si anak ngeyel, “Kata ibu, kalau tak punya apa-apa, mohon Nabi menanggalkan baju dan memberikan kepada kami.”

Muhammad pun menanggalkan bajunya, memberikannya, kemudian duduk dalam rumah, kedinginan dan agak menyesal. Allah segera kirim Jibril untuk memuji namun juga mengkritik Muhammad, “Jangan mengalungkan kedua tanganmu di leher, namun juga jangan mengulurkan tangan terlalu panjang.”

Artinya, manusia tak boleh pelit. Tapi dalam bersedekah juga harus tetap rasional dan realistis. Sakmadya, kata orang Jawa.

Di saat lain Nabi yang anggun pendiam ini tampak buncit perutnya tatkala sembahyang di masjid, Sayyid Umar bin Khaththab memperhatikan dan menelitinya dengan. seksama. Akhirnya ketahuan bahwa beliau sedang kelaparan, sehingga diambilnya sebongkah batu, diikatkannya di perut, lantas ditutupi gamis. Umar belingsatan mencarikan inakanan untuk beliau.

Ternyata pilihan untuk melarat, asal jangan sampai fakir, absah juga. Manusia berhak untuk kaya, tapi berhak pula untuk miskin. Muhammad ini contoh yang paling ‘gawat’ dalam sejarah dalam soal keberhasilan ekonomi, Read the rest of this entry