SEA GAMES DAN PENGHAMBURAN UANG RAKYAT

3. SEA GAMES DAN PENGHAMBURAN UANG RAKYAT

Indonesia baru saja usai menjadi tuan rumah pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games) XXVI pada 11 – 22 November lalu. Di tengah kesulitan ekonomi yang melanda rakyat, pemerintah tetap saja menggelar acara itu secara spektakuler. Tidak hanya dari sisi pelaksanaan, tapi juga dari sisi infrastruktur. Tak mengherankan jika pesta olahraga 2 tahunan ini terasa lain karena menghabiskan banyak biaya.

Lebih dari Rp 3 triliun total dana yang dihabiskan untuk penyelenggaraan Sea Games lalu. Dana sebesar itu didapat dari APBN 2010 Rp 350 miliar rupiah dan dari APBN 2011 senilai Rp 2,1 triliun. Itu pun belum cukup sehingga pemerintah menambah lagi Rp 1 triliun dari APBN termasuk Rp 600 miliar dari anggaran untuk sektor pendidikan dan sumbangan dana dari sponsor.

Dana itu digunakan untuk membangun sarana-sarana olah raga yang baru. Pembangunan Jaka Baring Sport Center saja membutuhkan dana lebih dari Rp 3 triliun rupiah. Itu untuk membangun venues olahraga beserta fasilitas pendukung, seperti jalan, jembatan, saluran, pintu-pintu air. Sementara pembukaan dan penutupan dihambur2kan secara berlebihan menelan dana sekitar Rp 150 miliar.

Tampak ada keinginan yang kuat dari pemerintah untuk meningkatkan citra Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Pembukaan dan penutupan dibuat sespektakuler mungkin dengan mendatangkan para ahli dari luar negeri agar acaranya mirip dengan pembukaan Olimpiade Beijing, China. Memang benar ungkapan berbagai tokoh2 agama dan moral bangsa ini…Kabinet dan pemerintahan yg dipimpin SBY hanyalah berisi Program Pencitraan pribadi2 dan Pendustaan terhadap rakyat semesta belaka

Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, SEA Games ini sangat membanggakan. dimana pada forum tersebut bisa diperdengarkan lagu2 ciptaan asal2annya sehingga namanya bisa dikenang oleh rakyat sebagai presiden sekaligus pesinden yg sukses dlm membohongi rakyat. Apalagi setelah Indonesia dipaksakan agar harus bisa menjadi juara umum. Ini kali pertama Indonesia juara umum kembalisetelah yang terakhir tahun 1997. Indonesia meraih 182 medali emas, 153 perak, 142 perunggu. Diikuti Thailand 108 emas, dan Vietnam 96 emas. Hasil ini lebih baik dibanding pada SEA Games sebelumnya di Vientiene, Laos. Saat itu, Indonesia hanya sampai peringkat ketiga.

Sebagai bentuk penghargaan kepada para atlet yang dianggap mengharumkan nama bangsa, pemerintah memberikan bonus sebesar Rp 200 juta per keping emas. Demikian pula bagi peraih perak dan perunggu, mereka pun mendapatkan bonus kendati lebih kecil. Totalnya menghabiskan biaya lebih dari Rp 350 miliar.

Penghamburan uang rakyat itu terasa sangat menyesakkan rasa keadilan masyarakat, tapi tidak buat penguasa dan elit partai politik negeri ini. Banyak masyarakat yang terlunta-lunta kehidupannya tapi tidak pernah diurus karena dianggap tidak memberikan jasa kepada negara. Padahal banyak hal yang diberikan/dilakukan masyarakat secara langsung dalam membantu mengatasi persoalan di tengah masyarakat.

Peraihan prestasi para atlet olahraga sesungguhnya tak berdampak kepada kemajuan bangsa , bahkan adakalanya saingannya cuma segelintir negara yg asal kirim delegasi saja. Kalaupun memperoleh kehormatan, itu sifatnya sangat pribadi dan temporer. Paling banter yang menikmati ‘pujian’ itu adalah atlet itu sendiri dan pemerintah yang sedang berkuasa. Pengalaman negara Uni Sovyet yang sering menjadi juara umum dalam olimpiade internasional menunjukkan hal itu. Moncernya prestasi olahraga tak berpengaruh apa-apa. Negara itu tetap saja runtuh, dan olahraga tak mampu menopangnya.

Belum lagi dampak perhelatan olahraga ini memunculkan hal-hal negatif di tengah masyarakat. Olahraga senantiasa diiringi dengan perilaku seks bebas. Makanya, Komisi Penanggulangan AIDS Palembang sempat akan memasang ATM kondom di hampir 200 pojok kota. Dampak lainnya, masyarakat kecil dikorbankan kehidupannya/pencahariannya untuk menghormati pesta tersebut. Dan yang paling menghebohkan, dana besar itu menjadi bancakan para koruptor. Mereka merampok uang rakyat itu atas nama pembangunan sarana olahraga.

http://mrizalismail.blogspot.com/

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 22 December 2011, in Kolom Esai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: