Monthly Archives: Desember 2011

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah

Mengikuti jejak para mujahid, aku harus berbicaradan menjawab pertanyaan mengenai problem kemiskinan,yakni tema utama yang makin mendesak kehidupan manusia di atas bumi Allah yang kaya raya ini.

Secara agak licik aku bersyukur mereka tak langsung memojokkanku dengan pertanyaan apakah aku tidak terlibat langsung maupun dalam proses penciptaan orang-orang miskin. Apakah aku tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang dimiskinkan dalam arti luas sedemikian rupa sehingga tak ada kemungkinan lain bagi hidupku selain ikut berpartisipasi dalam organisasi pemiskinan, atau sekurang-kurangnya aku membonceng hidup dari cipra-tan hasil pekerjaan memiskinkan. Sebab, kata para piawai, jaringan proses pemiskinan itu tidak cukup kita pahami melewati gambaran tentang sejarah penjajahan, politik adikuasa, pembukuan perusahaan-perusahaan besar, tatanan ketergantungan, ketimpangan-ketimpangan amat tajam dari kesempatan hidup orang, atau segala sesuatu yang seolah-olah berada nun jauh di sana. Jaringan proses pemiskinan itu menyangkut segala mekanisme yang tidak pernah kubayangkan tetapi yang memungkinkan aku memiliki beberapa potong baju rapi sementara banyak
tetanggaku tidak dan aku mau tak mau terdorong untuk memelihara dan mempertahankan kemungkinan pemi¬likan semacam itu. Bahkan kabarnya jaringan proses pe¬miskinan itu sangat terkait dengan urat-urat dalam otakku, rencana-rencana spontan kaki dan tanganku, atau segala sesuatu yang hampir tak terpisahkan lagi dari nyawaku. Hal-hal mengenai proses pemiskinan itu relatif gampang untuk sedikit banyak ikut kupercakapkan, selama ini se¬mua kubayangkan berada jauh di luar diriku apalagi jarak jauh itu dijaga dan dilindungi dengan seksama oleh akidah dunia ilmu pengetahuan di mana tulisan ini berpartisipasi.

Sesungguhnya itu mengerikan. Namun jauh lebih mengerikan lagi adalah kabar lain yang menyatakan bahwa jaringan proses pemiskinan itu bukanlah seperti benang kusut, melainkan justru merupakan rajutan benang yang sedemikian rapinya sehingga beberapa orang hanya melihat jalan teror untuk mencoba memperoleh ke¬kusutan-kekusutan kecil.

Jadi, apakah pada suatu hari kemungkinan teror itu akan menimpaku, sebab memang aku cukup layak untuk itu? Aku berkata: Ya Allah, masukkan saja aku ke dalam neraka yang bukan ciptaanMu

Aku berlindung kepada Allah, jangan-jangan proses kebiadaban peradaban manusia yang kini diadili oleh makin banyak orang itu terkandung dalam hidupku, dalam cara kerja otakku, dalam tas kerja profesiku, dalam bagian dari doa-doa sembahyangku, bahkan menjadi isi-isi terpenting dari kamar-kamar rumahku. Bersediakah para malaikat, dengan kesucian mereka, membantu kami meneliti kemungkinan itu?

Pernah kubaca sebagian amat kecil dari ratusan atau mungkin ribuan buku mengenai persoalan kemiskinan, yang pasti amat sedikit saja mampu kupahami sehingga dalam kesempatan ini aku sangsi apakah aku tidak sekedar menulis ulangkan hal-hal yang sama, dengan hasil yang lebih buruk.

Sementara itu aku hidup bersama banyak orang miskin. Bahkan aku sendiri, menurut ukuran dari konteks persoalan ini, tak lain adalah juga seorang miskin. Tetapi yang terakhir ini pun tak akan bisa benar-benar kutuliskan, sebab jiwa orang miskin dipenuhi oleh emosi, impian dan inferioritas betapapun itu mereka sandang seolah-olah dengan ringan dan kuat sedangkan apa yang diatas kusebut akidah dan kaidah ilmu pengetahuan: hanya bersedia menulis ketiga hal itu, dan tak memperkenankan ketiga hal itu menuliskan dirinya.
Sebab yang lain ialah karena aku mengalami jarak yang tidak pendek antara anatomi persoalan kemiskinan dengan manusia miskin. Yang pertama berasal terutama dari seolah-olah para dewa yang transenden, atau penerbang yang untuk memperoleh pandangan yang seluas-luasnya atas skala bumi maka ia melayang setinggi-tingginya. Banyak kali para penerbang itu memang memusatkan pandangan matanya ke titik-titik tertentu yang paling tajam, namun jelas bahwa manusia-manusia di bumi tampak hanya sebagai guratan-guratan di mata mereka. Manusia hanya terlihat sebagai akibat dari suatu sebab, pergeseran dari suatu gerak, atau semacam lautan buih di seputar arus gelombang pokok.

Sedangkan yang kedua merupakan suatu dunia immanen, suatu keniscayaan tanpa jarak: badan kumal yang seolah-olah tubuhku sendiri, bau buruk yang seakan-akan berasal dari kedalaman hidungku sendiri, keringat pengap yang seperti mengucur dari punggungku sendiri; atau semacam komposisi yang absurd dan membingungkan antara derita dan keceriaan, antara kekecutan dan keperkasaan, antara kepasrahan dan kenekadan, atau antara dunia bayi dan kebijakan seorang tua yang telah berusia berabad-abad lamanya.
Aku merasa jelas bahwa aku tak kunjung paham kedua-duanya. Namun aku melihat jarak itu ada, dan di dalam jarak tersebut aku sering menyaksikan usaha-usaha santunan dari yang pertama kepada yang kedua mengalami kebuntuan atau keterjebakan. Oleh jarak itu aku sendiri sering dibikin gagap, tak becus mendudukkan pikiran, bingung menentukan kuda-kuda sikap, bahkan tidak jarang aku menjadi kehilangan diriku sendiri. Di dalam perjuangan gencar memerangi proses pemiskinan itu sering aku menjumpai diriku tak lebih dari sejumlah kalimat indah yang hampa. Read the rest of this entry

Iklan

SEA GAMES DAN PENGHAMBURAN UANG RAKYAT

3. SEA GAMES DAN PENGHAMBURAN UANG RAKYAT

Indonesia baru saja usai menjadi tuan rumah pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games) XXVI pada 11 – 22 November lalu. Di tengah kesulitan ekonomi yang melanda rakyat, pemerintah tetap saja menggelar acara itu secara spektakuler. Tidak hanya dari sisi pelaksanaan, tapi juga dari sisi infrastruktur. Tak mengherankan jika pesta olahraga 2 tahunan ini terasa lain karena menghabiskan banyak biaya.

Lebih dari Rp 3 triliun total dana yang dihabiskan untuk penyelenggaraan Sea Games lalu. Dana sebesar itu didapat dari APBN 2010 Rp 350 miliar rupiah dan dari APBN 2011 senilai Rp 2,1 triliun. Itu pun belum cukup sehingga pemerintah menambah lagi Rp 1 triliun dari APBN termasuk Rp 600 miliar dari anggaran untuk sektor pendidikan dan sumbangan dana dari sponsor.

Dana itu digunakan untuk membangun sarana-sarana olah raga yang baru. Pembangunan Jaka Baring Sport Center saja membutuhkan dana lebih dari Rp 3 triliun rupiah. Itu untuk membangun venues olahraga beserta fasilitas pendukung, seperti jalan, jembatan, saluran, pintu-pintu air. Sementara pembukaan dan penutupan dihambur2kan secara berlebihan menelan dana sekitar Rp 150 miliar. Read the rest of this entry

RAKYAT MISKIN DI NEGARA KAYA

Di tahun 2011 ini sejumlah survei mengemukakan adanya peningkatan nilai kekayaan orang-orang kaya di Indonesia. Majalah Forbes misalnya pada November lalu merilis 40 daftar orang terkaya di Indonesia dengan akumulasi kekayaan US$ 85,1 miliar. Angka tersebut naik 16% dari tahun sebelumnya. Dengan kata lain, nilai kekayaan mereka setara dengan 11 persen total PDB Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai US$752 miliar. Hebatnya, tiga orang terkaya dari daftar tersebut tersebut memiliki total kekayaan US$32,5 miliar. Read the rest of this entry

Menyorong Rembulan

Gerhana rembulan hampir total
Malam gelap gulita
Marahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan
Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan
karena ditutupi oleh bumi
Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi
Matahari adalah lambang Tuhan
Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan
Rembulan para kekasih Allah, para Rasul, para Nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga dan siapa saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi
Karena bumi menutupi cahaya matahari, maka malam gelap gulita
Dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi
Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas
Orang menyangka kepala adalah kaki
Orang menyangka Utara adalah Selatan
Orang bertabrakan satu sama lain
Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain
Atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain
Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah
Akan kemana melangkah ? dan bagaimana melangkah ?
Ilir-ilir kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari namun akal pikiran kita belum !
Hati nurani kita belum !
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni melarangnya untuk insaf dan tobat
Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur
Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaiman iblis yakni menghalangi usahanya untuk memperbaiki diri
Siapakah selain setan, iblis dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia ?
Yang memblokade pintu sorga ?
Yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka ?
Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas
Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak
Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan
Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan
Melainkan asiknya perpecahan
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara
Yang kita kembang suburkan adalah memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta
Melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati
Pilihanku dan pilihanmu adalah :
APAKAH KITA AKAN MENJADI BUMI YANG MEMPERGELAP CAHAYA MATAHARI SEHINGGA BUMI KITA SENDIRI TIDAK AKAN MENDAPATAN CAHAYANYA ATAU KITA BERFUNGSI MENJADI REMBULAN KITA SORONG DIRI KITA BERGESER KE ALAM YANG LEBIH TEPAT AGAR KITA BISA DAPATKAN SINAR MATAHARI DAN KITA PANTULKAN NILAI-NILAI TUHAN ITU KEMBALI KE BUMI

 

Dari puisi : “Menyorong Rembulan”
oleh EMHA AINUN NAJIB (Kyai Kanjeng)

RENUNGAN LIR ILIR…

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Bisakah luka yang teramat dalam ini nantinya akan sembuh, bisakah kekecewan dan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis, adakah kemungkinan kita merangkak naik kebumi dari jurang yang teramat curam dan dalam, akankah api akan berkobar-kobar lagi apakah asap akan membumbung tinggi dan memenuhi angkasa tanah air, akankah kita akan bertabrakan lagi jarah menjarah dengan pengorbanan yang tak terkirakan, adakah kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani, bersediakah sebenarnya kita untuk tau persis apa yang sesungguhnya kita cari, cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya langkah-langkah kita, pernahkah kita bertanya bagaimana melangkah yang , pernakah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali perlu kita sesali dari prilaku-prilaku kita yang kemarin, bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan, masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan ia tetapi juga kita masih tersediakah peluang didalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan supaya sakit…sakit..sakit kita ini benar benar sembuh total, sekurang-kurang dengan perasaan santai kepada diri kita sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan bukanlah yang berada diluar tubuh kita tetapi didalam diri kita, yang perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita. Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia Lir ILir……(Lir iLir….Lir iLir….Tandure woh sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar……)

Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri namun tidak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu telah Ia lantunkan dan tak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham, padahal kata-kata beliau mengeja kehidupan kita ini sendiri, alfa….beta..alif…ba….’ ta’….kebingungan sejarah kita dari hari-kehari, sejarah tentang sebuah negri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperi “menggeliatlah dari matimu!!! tutur sang Sunan…” Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidurmu sungguh negri ini adalah penggalan Surga!! Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya. Kau bisa tanam benih kesejahteraanapa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra.

Tapi kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini, kita telah memboroskan anugerah tuhan ini dengan bercocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan. (cah angon….cah angon penekno blimbing kuwi…..lunyu-lunyu penekno..kanggo mbasuh dhodot iro…) kanjeng sunan tidak memilih figure misalnya (Pak Jendral…Pak Jendral,,,,) juga bukan intelektual, Ulama-ulama’, seniman, sastrawan atau apapun, tetapi cah angon, beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwi bukan (Penekno pelem kuwi….)bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah yang lain, tapi belimbing bergigir lima terserah apa tafsirmu tentang lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu, lunyu…lunyu penekno…agar belimbing bisa kita capai bersama dan yang harus memanjat adalah cah angon anak gembala, tentu saja dia boleh seorang doctor, kyai, ulama, seniman, sastrawan atau siapapun, namun dia harus memiliki daya angon daya menggembalakan kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesame saudara sebangsa, determinasi yang menciptakan garis besutan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua kecendrungan, bocah angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu grombolan.

Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang dirobohkan atau diperebutkan dan air sari pati belimbing gigir lima itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang kalau engkau tidak percaya berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan harkatmu sebagai manusia.

Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia, pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan system nilai. System nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima! Satu syair tidak bisa diselesaikan ditafsirkan dengan seribu jilid buku, satu tembang syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu dan seribu orang. Kami ingin mengajakmu untuk berkeliling untuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing, agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita.

Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku

Bagi orang awam, ijazah itu hanya simbol yang biasa digunakan dunia persekolahan bahwa seseorang telah mencapai derajad tertentu, entah itu lulus SD, SMP, SMA, diploma, sarjana, master, atau doktor. Dari konstruksi kalimat ini, ijazah bukan tujuan yang harus dicari seseorang, karena yang dicari adalah ilmu. Faktanya, kalimat ini tidak berlaku seratus persen. Lihat saja di dunia persekolahan di negeri ini ternyata banyak diisi oleh kaum akademisi yang logikanya terbalik, yakni ijazah menjadi tujuan dan penguasaan ilmu menjadi nomor kesekian belas. Karenanya dapat dipahami jika ijazah menjadi komoditas yang paling laris. Jual beli ijazah dapat dilakukan terang-terangan, maupun dapat dilakukan secara tersulubung.
Coba saja iseng-iseng bertanya kepada seorang murid atau mahasiswa, maukah mendapat ijazah namun tidak mendapat ilmu, atau sebaliknya mendapat ilmu namun tidak mendapat ijazah misalnya, maka mahasiswa tersebur akan bersorak dan koor bersama: ”Yo mesti jelas pilih dapat ijazah (meski tidak dapat ilmu)”. Demikian juga mahasiswa saya, melihat saya sangat rajin mengisi kuliah sehingga tidak pernah sekalipun kosong, mereka malah bertanya: “Lho pak kok gak pernah kosong?” Saya hanya bilang: “Apa kalian ingin tidak ada kuliah saja dan kalian langsung saya kasih ijazah kosong dan diisi sendiri nilainya, mau?” Jawab mereka juga serempak: “Yo mestiiii….” Lalu mereka tertawa dan bertepuk tangan bersama, riuh rendah.
Mengapa yang dicari ijazah? Karena ijazah juga bisa untuk bekal masuk pegawai negeri, sedangkan ilmu belum tentu. Buktinya untuk masuk pegawai yang ditanyakan juga ijazahnya, bukan penguasaan ilmunya.
Cara memperdagangkan ijazah secara tersembunyi juga marak dilakukan, misalnya dengan cara mengatrol nilai, baik karena kasihan agar tidak menjadi mahasiswa abadi maupun karena memang rendah mutu perguruan tinggi yang bersangkutan. Lihat kasus nyontek massal dalam ujian nasional. Wajar jika kepemilikan ijazah seseorang tidak berbanding lurus dengan akhlaknya. Yang terjadi justru hal yang aneh: makin tinggi ijazah yang dimiliki seseorang, makin tinggi pula tingkat kecanggihannya untuk mencuri (korupsi). Korupsi jelas hanya dapat dilakukan oleh orang yang berijazah tinggi dan bukan oleh tukang becak, blantik sapi atau buruh penggali sumur.
Karenanya, janji Allah hanya akan meninggikan beberapa derajad orang yang berilmu pengetahuan, dan bukan orang yang berijazah. Sialnya orang-orang Barat yang notabene secara formal tidak Islam dan tidak pernah membaca Quran, yang justru mengamalkan janji Allah ini. Terlepas orang-orang Barat tidak pernah bermujahadah, namun mereka sangat hebat berijtihad. Wajar untuk kapasitas tertentu, derajad mereka ditinggikan Allah. Penemuan-penemuan penting sebelum Revolusi Industri dilakukan oleh orang-orang bengkel dan bukan orang-orang persekolahan. Nama-nama seperti Graham Bell, Marconi, Wright Bersaudara, Thomas Edison, James Watt, dst adalah para praktisi bengkel yang rajin “iqro” dan tekun berjihad dan berijtihad. Jihad artinya bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita dan pemikirannya.
Sebaliknya kita, sangat rajin bermujahadah, namun sangat malas untuk beriqro dan berijtihad. Negeri ini sangat kaya ilmuwan dan ulama fiqh, dan sedikit ulama atau ilmuwan yang rajin iqro dan berijtihad. Al Quran yang mestinya sebagai sumber ilmu, hanya ditimang dan dilombakan dalam MTQ, meski ini juga tidak salah. Maksud saya alangkah indahnya jika Quran selain dibaca dan dilombakan secara indah dan estetis, namun juga digali ilmunya. Dalam kitab ini Allah menebar ilmu, entah itu ilmu biologi, kimia, geologi, astronomi, hukum, ekonomi, demokrasi, dst, sampai cara berdagang yang adil di pasar, cara memperlakukan batu dan rumut, bahkan cara bagaimana bersenggama yang santun pun Quran mengajarkannya.
Ilmu-ilmu geologi mutakhir yang dikagumi saat ini, ternyata sudah ada di Quran ratusan tahun yang lalu. Ayat-ayat tentang: “Apa kamu kira gunung-gunung itu tetap tegak berdiri di tempatnya?“, “Akan Aku (Allah) tumpahkah isi lautan“, dst, adalah ilmu-ilmu tentang kerak bumi dan tsunami yang saat ini matian-matian kita klaim sebagai ilmu yang baru dan sebagian belum terpecahkan. Read the rest of this entry

Buruk Muka Jangan Cermin Yang Dibelah

Diskusi panjang dalam sebuah seminar itu, menjadi sangat menarik ketika tem pemberdayaan dinilai dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Ketika dalam kurun waktu yang cukup panjang, nilai pemberdayaan di anggap telah kehilangan ruhnya, maka diskusi ini menjadi ajang layaknya sebuah oase untuk mencari solusi dari kebuntuan-kebuntuan yang selama ini telah berjalan. Para pengembara pemberdayaan itu, bagai kekurangan bekal air minum untuk menempuh jalur padang pasir pemberdayaan yang sangat luas yang tidak di ketahui mana pangkal dan ujungnya.
Umpamanya ketika di lontarkan tema tentang makna pemberdayaan dan seberapa jauh nilai pemberdayaan itu merasuk dan menjiwai dalam dari seorang pemberdaya. Semuanya sepakat bahwa masyarakat harus mendapatkan hak-haknya dasarnya, harus diperjuangkan aspirasi politiknya, di kuatkan mekanisme control dan bargaining powernya. Semuanya menyetujui bahwa terdapat ketidakberesan dalam stuktur tatanan birokrasi serta regulasi formal Negara ini. Dan pemberdayaan dianggap sebagai problem solvingnya dari masalah kemiskinan di Negara yang kaya raya ini. Karena memang telah terbukti, bahwa sistem diktator dan otoriterisme dari sistem yang sentralistik telah sukses membawa bangsa ini dalam kebangkrutan.
Read the rest of this entry