Monthly Archives: November 2011

KALAM MAIYAH; Untuk Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah

Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

1.

 Malam ini kita menghormati dan menyampaikan penghargaan kepada 3 + 9 orang di antara sekian orang yang pekerjaan sehari-harinya insyaallah disenangi oleh Tuhan, di tengah gegap-gempita peradaban modern yang profesi utamanya adalah menyakiti hati Tuhan.

Malam ini kita bukan sedang memberikan penghargaan kepada orang yang prestasinya hebat, yang punya kekuatan dahsyat, yang punya kreativitas mumpuni, yang punya kepandaian intelektual, atau yang punya ketinggian spiritual.

Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah juga tidak diperuntukkan bagi orang dengan keunggulan professional, bahkan tidak juga untuk keunggulan itu sendiri. Maiyah berpendapat manusia tidak perlu mengungguli sesama manusia.

Wilayah nilai yang mengumpulkan kita di sini bukan hal-hal besar atau yang dianggap besar oleh Peradaban Materi yang sedang berlangsung sekarang ini, melainkan hal-hal yang kecil, sederhana, dasar dan inti pada kehidupan manusia.

Yakni benarnya seseorang memilih nilai dalam hidupnya. Otentisitas pilihan itu sehingga membuatnya punya karakter untuk menjadi orang yang bukan dirinya. Kesungguhan di dalam menjalankan nilai pilihannya itu. Kesetiaan di dalam memperjuangkannya dalam rentang waktu yang lama dan teruji. Serta keikhlasan untuk menanggung segala akibat, resiko atau bahkan kesengsaraan karena pilihannya. Read the rest of this entry

Ketika Hujan

Ketika Hujan
Gemericik rindu menyeruak di sela-sela tetesan
Perlahan, namun semakin dalam

Tak ingatkah engkau ketika duduk di sebuah pinggiran taman
Berteduh menunggu hujan sambil kau dekap dan rapatkan badan
Wajahmu tersenyum menyiratkan kenangan mendalam
Menyimpannya dalam berjuta air yang menjadi tergenang

Kita pernah melewatinya
Bermain-main bersama selayaknya sahabat yang lama tak bersua
Bercengkerama dan berharap hujan mendengarkan serta menyimpannya untuk menjadi kisah
Doa dan harapan yang dapat kau tagih kelak di kemudian

Engkau Bercerita
Mendongeng tentang mimpi kehidupan di masa depan
Juga mendendangkan lagu dari masa silam

Kini hanya hujan
Yang kembali menjadi teman di dalam kesepian
Membawa desiran angin kerinduan yang membangkitkan indahnya kenangan
Luruh dan jatuh bersama rinai air
Menjelma menjadi sebuah bayangan yang membawa kantung kedamaian

Kau bangkitkan lagi
Kau menghadirkan dirimu kembali
Menelusup ke dalam jantung imajinasi
Menggoda dengan janji yang pernah kau titipkan dahulu kepada hujan

Kini…..
Ketika Hujan
Gemericik rindu menyeruak di sela-sela tetesan
Perlahan, namun semakin dalam

Gilang Prayoga
Bukateja, 10 November 2011

Sajak Untuk Sang Pahlawan

Sang Pahlawan..
Siapakah dia sebenarnya..
Siapakah yang berhak menyandang jabatan itu…
Apakah yang menjadi penyelamatmu
Apakah yang mengamankan hidupmu, menentramkan hatimu
Ataukah dia…..
yang kau sanjung dan kau puja di layar kaca
Yang belum tentu kau kenal seluk beluknya..
Yang tak pernah kau tahu kesejatian dirinya…
Kedalalaman dan kemurnian hatinya
Kejujuran dan integritasnya…

Sang Pahlawan
Dari siapakah yang berhak menyebut dia pahlawan
Kita seorang ataukah dia yang berlagak jagoan
Ataukah dari Konsensus lingkar kebersamaan
Yang di syahkan melalui Undang-Undang Kenegaraan..

Sang Pahlawan..
Dia tidak menunggu engkau untuk ciptakan..
Namun sudah ada sebagaimana yang telah dikodratkan..
Bisa engkau binasakan secara perlahan ..
Dengan kebengisan, dendam, dan kerakusan…
Ataukah kau tumbuhkan dengan Cinta dan kebersamaan…

Nilai kepahlawanan apakah sama dan sebangun dengan gelar kepahlawanan
Apakah kepahlawanan harus di akui dan di sahkan untuk dia berhak menyandangnya..

Dan siapakah sang pahlawan yang pantas untuk disematkan
Kami semua menunggu jawaban..

Bukateja, 10 November 2011

Ketidakberdayaan “Sang Pemberdaya”

Secara sederhana, bila kita mengacu kata pemberdayaan (empowering) selama ini adalah sebuah proses untuk menguatkan serta mendayagunakan agar apa yang sebelumnya tidak berdaya menjadi berdaya. Berdaya dapat bersifat individual maupun juga bersifat tatanan sosial kemasyarakatan. Dapat pula disebut sebagai kemandirian, membangun potensi yang dimilikinya, mengidentifikasi masalah serta sanggup menemukan problem solving-nya sendiri yang mungkin berasal dari dalam diri maupun yang ada di luar diri. Kalau meminjam kata Bung Karno adalah “Berdikari”. Suatu manifesto yang berarti “berdiri di kaki sendiri”. Yaitu suatu kesanggupan dan juga etos untuk dapat menggerakkan, membangkitkan semangat juang untuk maju secara kolektif dan “gagah” dalam menghadapi masalah. Masalah bisa macam-macam, bisa masalah pribadi ataupun masalah sosial yang peta persoalannya mungkin juga adalah kombinasi dari keduanya.  Bisa datang dari internal masyarakat namun juga ada yang dari faktor-faktor eksternal di luar masyarakat.

Term pemberdayaan, menjadi populer ketika dalam sebuah survei dan penelitian ilmiah yang di dasarkan pada Human Development Index (HDI) menampilkan bahwa index manusia Indonesia rata-rata masih tergolong menengah di antara negara-negara lain di dunia. Masih jauh di bawah negara-negara maju di eropa dan Amerika. Namun sedikit lebih baik di atas negara-negara Afrika yang hanya memilki lautan gurun pasir saja. Bandingkan dengan Indonesia, yang memiliki sumber daya yang melimpah ruah namun masih saja miskin. Bahkan masih kalah dengan negara serumpun Malaysia dan ironisnya kalah juga dengan negara “kecamatan” Singapura.

Dari itulah, di tarik benang merah penyebab masalahnya. Dan salah satu yang menjadi faktor (katanya) adalah ketidakberdayaan masyarakat Indonesia yang mencakup ketidakberdayaan ekonomi, sosial dan politik. 30 Tahun di bawah rezim yang represif, membuat masyarakat Indonesia, gagal dalam menghadapi arus modernisasi yang datang menyerbu bagai air bah bergulung-gulung. Rakyat Indonesia, tidak benar-benar bisa memahami, mengetahui keunggulan sumber daya lokal maupun potensi yang luar biasa ini. Untuk itulah maka, diperlukan pendobrak kejumudan cara berpikir masyarakat untuk membawa masyarakat indonesia menjadi kondisi masyarakat yang berdaya. Read the rest of this entry