Antara Profesi dan dedikasi


Kadangkala kita sebagai warga negara biasa yang tidak mempunyai jabatan dan pemangku kepentingan di sebuah lembaga instansi yang bonafide, atau katakanlah tidak menjadi bagian dalam sebuah struktur pemerintahan di negeri ini seringkali mengungkapkan nada-nada minor tentang pegawai negara atau lazimnya yang kita sebut sebagai pegawai negeri sipil. Kita seringkali iri begitu melihat hal-hal yang menyangkut kesejahteraan untuk para PNS tersebut. Kerja sudah enak, berangkat bisa jam berapa saja, mau masuk atau tidak juga tidak masalah, sampai kantor tidak tahu apa yang mau di kerjain sehingga seringnya hanya duduk ngobrol, merokok bas-bus, minum teh dan makan minum d warung sampai lepas tengah hari dan setelah itu bisa pulang dan menikmati keharmonisan di keluarga atau meneruskan berbelanja d mall.
Kalau kita orang awan atau orang Non-PNS menderet ke-enakan manjadi PNS, akan banyak sekali daftar yang kita temukan. Namun apabila sebaliknya kita mendaftari ke-susahannya menjadi PNS, sedikit sekali yang kita temukan, atau bahkan tidak menemukan sama sekali. Karena catatan-catatan kita seringkali masih d susupi dengan iri dengki dan ingin mencari keburukan orang. Hmm..kata orang, sudah manusiawi.
Namun, cerita dari seorang sahabat di negeri seberang ternyata malah berbanding terbalik dari analisa umum masyarakat tentang PNS. Dia sosok seorang pekerja yang brillian, cerdas dan berdedikasi. Dia pandai melakukan analisa perencanaan, pintar dalam statistika, memiliki pemahaman akuntansi dan perbankan yang bagus, dan juga mempunyai keahlian sebagai seorang supervisor yang handal. Namun yang lebih hebat dari itu semua adalah integritas moralnya, kebersihan hatinya dan kejujuran perilakunya. Singkat kata dia adalah seorang pekerja profesional yang cerdas, bertakwa dan berakhlak mulia, persis seperti harapan Bangsa Indonesia kepada para pemuda dan pemudinya.
Segala keunggulannya tersebut membuat dia jadi center of excellent d kantornya, namun keunggulannya itulah yang membuat dia menjadi “celaka”. Ketika dia mampu menyelesaikan segala tugas yang di embankan kepadanya dengan gilang gemilang, maka lambat laun segala tugas dengan seenaknya di bebankan kepada dia. Apa saja yang berbau tugas, langsung dialah yang jadi sasaran tembaknya untuk mengerjakan. Sahabat saya itu sudah mencapai tataran “trust” alias dapat di percaya. Sehingga apapun yang dia kerjakan, pasti akan mendapatkan pengakuan dari atasannya. Sehingga tidak ada yang salah ketika atasannya mempercayakan tugas-tugas penting kepada dia. Sekali dua kali dia menikmati pekerjaan itu. Namun ketika hal tersebut berulang kali, berminggu-minggu, bulan berganti, tahun berubah namun juga tidak ada perbedaan, dia merasa tugasnya itu mencekik leher. Ketika sudah hampir mencapai puncak beban kerja dia menjadi drop dan ternyata apa yang dia kerjakan ternyata malah menyusahkan dirinya.
Memang, alangkah menyedihkan ketika melihat suatu perusahan, suatu organisasi, suatu lembaga, suatu badan atau apapun yang merupakan sekumpulan orang yang bekerja bersama-sama untuk mewujudkan visi dan misinya bersama pula sesuai dengan tujuan awalnya, namun dalam praktek pekerjaannya terpusat pada satu titik. Kalau umpamanya Dinas, instansi, kementrian tidak di bedakan fungsinya, maka alangkah sangat semrawutnya. Kalau umpamanya Kemendiknas malah mengerjakan atau mengurusi masalah kasus Prita, atau masalah TKW ya mungkin tidak nyambung. Meskipun ada beberapa hal yang bisa d kerjasamakan. Namun tidak semuanya jenis kegiatan pembangunan dapat di kerjakan oleh satu lembaga saja. Makanya butuh manajemen. Butuh pengaturan. Butuh tatanan, sistem yang mengatur segala sesuatunya tersebut. Kalau dalam bahasa kampusnya adalah Manajemen Perusahaan. Kalau perusahaan, organisasi ada menajemennya begitu pula diri kita. Itulah profesionalisme. Yang tujuannya juga sama yaitu untuk mengefektifkan segala suatu menyangkut pengerjaan.
Nah apa yang di alami sahabat kita ini adalah disorientasi manejemen baik skala individu maupun perusahaan.
Itu merupakan gejala yang umum di hampir semua lembaga-lembaga kita. Bawahan yang kita anggap pandai dan cekatan selalu kita forsir dengan beban kerja yang terkadang sampai tidak manusiawi. Berjuta-juta buruh prabrik di perkerjakan tidak sebagai seorang manusia tapi tidak lebih di anggap seperti mesin robot. Masih mending kalau mesin rusak trus di perbaiki, d ganti onderdilnya, di perbaiki kekurangannya, terkadang buruh, TKW, bawahan, staf, outsourcing, pekerja kontrak malah tidak di perbaiki namun malah di buang. Meskipun sahabat kita yang PNS itu, tidak seburuk teman-teman yang lain yang langsung di buang, karena jarang ada PNS yang kena PHK. Namun konsekuensinya dialah yang akan dijadikan avant garde segala tuntutan tugas.
Belum lagi di tambah dengan masalah kesenjangan antar pekerja, metode sikut-sikutan, cari muka yang sudah lazim itu akan menjadi suasana kerja bukan menjadi tempat yang nyaman malah menjadi tempat yang mengerikan. Yang pandai ngeri melihat tugas yang semakin menggunung, yang bodoh takut tidak mendapat pekerjaan sehingga harus menjegal sesama teman.
Tapi, ternyata dia melakukannya adalah karena dedikasi dan tanggungjawab moral. Dan Dedikasi serta tanggung jawab moral tidak ada sangkut pautnya dengan PNS atau tidak. Tanggungjawabnya adalah kepada diri sendiri dan martabatnya.

N. Gilang Prayoga
Bukateja, 29 Juli 2011

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 16 October 2011, in News. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: