Konsistensi : Sebuah formulasi masa depan

Konsisten itu muatan ketetapan hati
Prinsip hidup yang menjaga kita

Kalau kita berbicara tentang hal konsistensi di semua aspek kehidupan kita, jawaban umum yang sering kita terima adalah berbagai keluhan, nada-nada menggeremang, suara-suara apatis dan sedikit nyinyir. Konsistensi dijadikan bahan wacana, bahan keilmiahan di ruang-ruang simposium, materi dalam presentasi para pakar psikologi bahkan muncul dalam nasihat kuno orang tua dalam menasihati anak-anaknya sebagai salah satu landasan awal menuju kesuksesan masa depan meskipun itu hanya terbatas dalam rumbaian kata-kata bijak saja. Meskipun implementasi dalam kehidupan dipastikan seringkali kita mengalami kegagalan menerjemahkannya dalam hidup kita. Apa makna, inti, metoda dan arti dari konsistensi. Para pakar psikologi, para pengembang dan peneliti tingkah laku manusia, staff HRD, Kyai, Pendeta, guru-guru di jaman modern ini dengan gampang akan memberikan definisi yang gamblang kepada anda. Atau bahkan anda tidak pernah butuh analisa dan keterangan dari mereka, karena anda sendiri sebenarnya mengetahui apa itu arti konsistensi. Namun, kita ketahui bersama, sungguh bagai menegakkan benang basah dalam menerapkan hal ini dalam diri kita. Meskipun kesulitan itu tidak sama dan searti dengan tidak mungkin.
Manusia mempunyai kecenderungan psikologis dari SonoNya yang memang sudah menjadi naluri untuk selalu bergerak dinamis. Dinamis dapat diartikan dengan dengan suatu gerak perubahan untuk menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekitar. Hal tersebutlah yang menjadikan manusia dari zaman purba sampai jaman reformasi infomasi yang gegap gempita ini untuk selalu bertahan dari keadaan dan tekanan yang dihadapinya untuk menciptakan penemuan-penemuan dan perubahan-perubahan dalam hidup manusia itu sendiri. Perubahan itu bisa dalam cara perilaku manusia yang salah satu faktornya adalah di awali terlebih dahulu dengan perubahan-perubahan gaya hidup yang terkait dengan perubahan teknologi pendukung dalam kemudahan hidup manusia. Dalam dinamika perubahan yang begitu cepat, mengharuskan setiap kita untuk selalu mengubah paradigma berpikir dalam melihat diri kita sekarang dan masa depan. Anda harus berbeda dan tidak boleh berpadangan seperti cara orang memandang sesuatu hal di tahun 45. Jika ada orang yang masih mempunyai pola pikir seperti itu, cepat-cepat akan kita muati dan kita stempel di jidat sebagai orang kuno, orang udik, orang ndeso, orang kolot dan berbagai cap lainnya. Kita sudah tidak memiliki waktu untuk mengukur dan menganalisa apakah yang mereka pertahankan dalam hidup mereka itu baik atau tidak. Yang menjadi ukuran bagi kita adalah, apakah mereka berpikir seperti kita. Berpikir seperti kita itu parameternya sudah tidak lagi tentang baik atau buruk, bermoral atau tidak, namun sudah mengalami dekadensi kualitatif dalam ukuran-ukurannya yang ujung-ujungnya terjebak hanya kepada bagaimana model rambutnya berubah atau tidak, punya ini-itu atau ga, ikut parpol ini atau tidak, ikut kumpulan motor harley atau tidak dan macam-macam lagi.
Tubuh sejati konsistensi ikut terkubur oleh perubahan-perubahan macam itu. Kita bisa mempunyai prinsip yang kita yakini kebenerannya, namun jangan heran ternyata prinsip kita akan terkaget-kaget karena dianggap kolokan dan ketinggalan jaman, sehingga secara malu-malu kita berputar haluan untuk mengikuti arus kebenaran bersama. Kita menggebu-gebu untuk menjadi mencapai suatu tujuan, namun dalam perjalanan itu ternyata harus menempuh perjalanan yang terjal, mahluk kemanusian kita tidak cukup kuat. Ada iming-iming budaya hedonistik mengepung kita, sehingga kita secara perlahan melangkahkan kaki keluar daripada rel tujuan awal kita. Sisi pragmatis manusia menjadi alasan.
Dari sisi itu dapat kita simpulkan, bahwa membangun konsistensi itu harus mau tidak mau membangun benteng dalam diri dari arus pengaruh eksoterik diri kita. Membangun benteng tidak harus dengan menutup diri dengan menolak segala sesuatu perubahan dalam hidup. Namun lebih dapat untuk menyakini bahwa setiap inci hidup kita membutuhkan tujuan.

Bukateja, 14 Desember 2010

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 11 June 2011, in Kolom Esai and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: