Monthly Archives: Juni 2011

Lowongan Kerja Fasilitator di PNPM Mandiri Perdesaan Jawa Tengah 2011

Mungkin bagi teman-teman yang belum tahu apa itu PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Mandiri Perdesaan (PNPM MPd) adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat terbesar di seluruh Indonesia bahkan dunia, karena mencakup hampir semua kecamatan dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Disini saya ingin berbagi informasi saja, bahwa ada lowongan pekerjaan sebagai Fasilitator Kecamatan (FK) dan Fasilitator Teknik (FT) yang akan di tempatkan di kecamatan di wilayah Jawa Tengah.
Adapun syaratnya cukup mudah dan sederhana : Read the rest of this entry

Iklan

Mimpi Setiap Orang

Dalam waktu tak lebih dari dua malam, manusia di bulatan bumi ini seluruhnya menjadi gempar. Mereka kaget, takjub dan dibikin tidak mengerti oleh satu hal yang sama. Maka ributlah bumi, di bagian mana saja, yang di pusat atau yang di pelosok, oleh pergunjingan satu topic yang sama.

Ini jelas untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah dengan penuh gairah mengenyam dan mencatat kejutan ini di atas tinta mutiara. Segala mulut dan segala mass media sibuk mencari kata-kata dan kalimat yang tepat, yang artistik dan spektakuler untuk mengabadikannya. Sebenarnya pada mulanya hanya terjadi di sebuah kampung. Bahkan di sebuah pojok yang menjadi bagian kecil dari kampung. Seseorang, laki-laki tua, pagi-pagi buta berkata kepada istrinya:

“Hebat! Semalam aku bermimpi sensasionil. Entah bagaimana bentuk kisahnya yang Jelas. Tapi yang kuingat, Tuhan mulai hari ini menutup rapat-rapat pintu-Nya.”

“He?” istrinya terbelalak, “Aku juga bermimpi demikian. Aku melihat mendadak di langit muncul makhluk aneh yang amat besar, membawa terompet yang juga amat besar ukurannya mengumandangkan suara ke segala penjuru bahwa Tuhan telah menutup pintu-Nya!”

Belum selesai keheranan sang suami. muncul menantunya dan menceritakan pengalaman yang sama. Belum sempat lagi menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi, datang tetangga, bertanya apa bisa masuk nalar mimpinya semalam bahwa Tuhan menutup pintu. Maka kemudian menjalarlah keheranan demi keheranan. Ketakjuban demi ketakjuban. Meskipun dengan cerita mimpi yang berbeda-beda, tetapi kesimpulannya semua sama, Beberapa saat kemudian di seluruh kampung orang dipersatukan oleh rasa takjub yang sama. Dan seterusnya. tanpa terasa seluruh daerah, seluruh kota, seluruh negara, seluruh benua dan seluruh dunia, diikat oleh pergunjingan tetangga tentang masalah yang sama. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua malam. Bahkan bisa dikatakan sehari semalam, yakni sepanjang matahari beredar mengelilingi bumi, ketika semua manusia di seluruh bulatan bumi punya satu kali kesempatan untuk bangun pagi. Hanya saja hal tersebut menjadi kesadaran internasional, ditempuh dalam waktu dua hari dua malam. Maklumlah peradaban ummat manusia sudah demikian maju. Jaringan komunikasi sudah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mampu mengedari bumi dan mengikat kesadaran bersama hanya dalam waktu yang teramat singkat.

Pada detik-detik berikutnya kesibukan rasa takjub itu mulai meningkat ke proses yang lebih jauh dan dalam. Segala topik yang semula menggunjing dunia, umpamanya soal perang yang tak kunjung selesai atau peristiwa olah raga internasional, terhapus secara mendadak oleh kejutan ini. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin, kata setiap orang. Sejak dari rakyat paling kecil, bodoh dan buta huruf, sampai pada pemimpin-pemimpin negara atau pemuka agama, tidak ada satu pun yang absen memperbincangkannya, menguraikannnya, menilainya, mengira-ngira, menyimpulkan atau setidaknya menawarkan kemungkinan. Ada yang menggunakan cara berpikir yang ilmiah, ada yang lugu, ada yang menangkapnya secara mistis, serta ada juga yang menggabungkan antara kepercayaan yang diperolehnya dari agama dengan tuduhan-tuduhan vang dahsyat terhadap dosa-dosa manusia selama sekian abad di dunia. Tetapi yang jelas tidak ada seorang pun berani acuh atau meremehkannya. Ia menjadi masalah semua etnis dan tingkat manusia. Sejak kuli di pelabuhan, babu Cina, pencari puntung, pedagang kaki lima, guru sekolah, pemain teater, pengkhothah, sampal pegawai negeri dan gerilyawan-gerilyawan di hutan-hutan. Masalah ini segera menumbuhkan berbagai macam reaksi, di samping reaksi pikiran, yang terlebih lagi ialah reaksi perasaan. Umumnya manusia dihinggapi rasa panik, cemas, minimal khawatir.

“Ini peringatan bagi keserakahan manusia selama ini” kata seorang pemeluk agama yang patuh.

“Tanda mau kiamat” ujar lainnya.

“Tuhan tak sudi lagi mengundurkan hukuman sampai hari akhir kelak di neraka, tapi menunjukkan menunjukkan kekuasaannya sekarang”.

Semua bernada sama. Rupanya tidak perduli seseorang punya ideologis, posisi sosial atau jabatan apa, semuanya langsung tertusuk kemanusiaannya oleh kejadian dramatis ini. Ada yang sekaligus menyalahkan para pengkhianat, orang-orang murtad, penjahat-penjahat, para pelacur yang menjual tubuhnya maupun keyakinannya, kaum munafik, penindas rakyat, penjilat, pengingkar sembahyang, orang-orang yang tidak setia pada tanggung jawabnya serta mereka yang mengeksploatir kedudukan untuk memenuhi nafsu keduniaannya. Ada juga yang langsung mengarahkan tudingannya ke para pemimpin dunia, yang dianggap penentu dari segala keadaan dan akibat-akibatnya dalam kehidupan seluruh dunia. Ada yang menyalahkan negara-negara penjajah, ambisius dan imperialism Ada yang menyalahkan para pemegang sumber arah kebudayaan, menyalahkan kebijaksanaannya yang ternyata menyesatkan hidup dan menumbuhkan ketidak-seimbangan-ketidak-seimbangan. Tetapi dari kesemuanya, bisa ditarik garis besar yang sama. ialah nada pertobatan, rasa dosa dan kesadaran untuk menyesali masa silam yang penuh noda. Read the rest of this entry

DOWNLOADKUMPULAN EBOOK SHERLOCK HOLMES : BAHASA INDONESIA

Nah bagi teman-teman yang menyukai dan merupakan penggemar dari Dektektif  kondang Sherlock Holmes, dapat mengunduh koleksinya DISINI. Kumpulan ebook ini merupakan file yang berupa PDF dan dalam versi Bahasa Indonesia. Jadi bisa memudahkan dalam membaca baik melalui komputer maupun handphone.

Kalo yang masih belum tahu siapa Sherlock Holmes itu, berikut profilnya yang disarikan dari beberapa sumber :

Sherlock Holmes adalah detektif fiktif berkebangsaan Inggris ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Ia biasanya ditemani rekannya Dr. Watson dalam petualangannya. Ia terkenal akan kemampuan deduksinya dan kepandaiannya dalam memecahkan kasus.

Sherlock Holmes menyebut dirinya “detektif konsultan”, orang yang dimintai tolong dalam suatu kasus ketika kasus tersebut dianggap terlalu sulit untuk dipecahkan polisi dan detektif lain; Read the rest of this entry

P o d i u m

Sekarang tugasku yang penting ialah menjadi muadzin keliling. Beredar tiap hari Jum’at dari masjid kampung ini, ke kampung itu, dan masjid kampung sana telah menunggu untuk giliran berikutnya. Nooriman Dutawaskita, yang memberiku tugas, selalu juga bertindak sebagai khotib di masjid-masjid itu.

Pada minggu-minggu terakhir ini bahkan ada tugas lain: Gus Nooriman (demikian orang-orang kampung memanggilnya) memberi pengajian dan aku mengawalinya dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Our’an. Ini sungguh-sungguh semangat baru yang memancar di kampung-kampung terutama di daerah Jombang timur. Semangat keagamaan yang dianugerahkan langsung dari langit, bagaikan hujan yang tumpah. Para jemaah di masjid atau muslimin dan muslimat di acara pengajian umum, berjejal-jejal dan terpesona mendengarkan uraian Gus Noor. Mereka bagaikan bermimpi menatap anak ajaib itu di podium. Aku sendiri yang selalu “diseret” Gus Noor ke mana-mana, merasakan getaran keajaiban itu.

Waktu beradzan dan mengaji serasa aku sedang turut membangun keajaiban. Bertumbuh kebanggaan yang besar. Aku sering menangis. Tetapi kebanggaan itu segera lebur ketika ingatanku melayang kepada kebesaran Allah. Segalanya niscaya kembali kepadaNya. Juga setiap kebanggaan yang bisa menggelincirkan.

Usiaku 12 tahun, dan Gus Noor kukira belum lebih 14 tahun. Aku berada di bulan-bulan terakhir SD, sekaligus Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan Gus Noor seingatku sudah 4 tahun terakhir ini berhenti sekolah, dari kelas IV Madrasah. Perihal kemampuanku mengaji Al-Qur’an, bukan hal yang mengherankan untuk situasi pendidikan mengaji di kampung. Sejak sebelum bersekolah, setiap mau tidur Ibu mengelus-elusku sambil mengajari lagu AlQur�an atau kasidahan. Di langgar, pelajaran mengaji dilatih terus menerus. Kepintaran mengaii bahkan menjadi ukuran gengsi seorang anak. Adikku yang berusia 9 tahun berani kupertandingkan mengaji dengan tamatan Mualimat Yogya yang terkenal di sana. Jadi tugasku itu bukan hal yang luar biasa. Gus Noor memilihku kukira hanya karena suaraku kabarnya bagus dan bisa mengalun lebih merdu dibanding teman-teman mengaji di langgar. Kuterima tugas itu dengan perasaan yang khusyu, seakan aku sedang ikut bepergian dengan seorang Malaikat. Read the rest of this entry

Di Zawiyyah Sebuah Masjid

Sebuah Cerpen Karya Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid. Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.
“Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,” berkata Pak Kiai kepada santri pertama, “apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?”
“Agama,” jawab santri pertama.
“Berapa jumlahnya?”
“Satu.”
“Tidak dua atau tiga?”
“Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan.”
Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, “Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?”
“Islam.”
“Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?”
“Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda.”
“Kenapa kau katakan demikian?”
“Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam.”
“Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?”
“Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia.”
Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. “Allah mengajari Adam nama benda-benda,” katanya, “bahasa apa yang digunakan?”
Dijawab oleh santri ketiga, “Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur’an.”
“Bagaimana membuktikan hal itu?”
“Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam.”
“Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?”
“Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah.”
“Maksudmu, Nak?”
“Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi.” Read the rest of this entry

Menelanjangi Kemanusiaan Manusia Lewat ‘BH’-nya Emha

Apa judulnya cukup menggoda? Maaf. Sengaja. Pasti Anda bertanya-tanya apa gerangan hubungan antara Emha dengan BH. Atau Anda langsung dibikin panas dengan judul itu. Entah tersinggung, tidak terima atau tergoda. Baiklah saya tidak akan berlama-lama menggoda Anda dengan rasa penasaran atau seribu pertanyaan. Akan segera saya jelaskan perihal ‘BH’nya Emha. Saya hanya sedang akan membahas perihal buku yang baru saja saya baca. Sebuah buku kumpulan cerpen-cerpen karya Emha Ainun Nadjib yang kebetulan memang diberi judul ‘BH’. Judul yang provokatif memang dan sekaligus menjual.

Tidak heran jika mungkin tidak sedikit yang tidak akan setuju sama sekali ketika saya menyebut buku kumpulan cerpen BH ini sebagai sebuah buku pemikiran yang saya rekomendasikan.Tapi maaf saya tidak peduli. Bagi saya buku ini termasuk buku pemikiran yang dikemas secara lebih jujur lewat peristiwa-peristiwa kemanusiaan keseharian dalam bungkus estetis. Setidaknya bagi saya buku ini sudah membikin saya berpikir.

Barangkali diantara kita agak heran “O, Emha punya cerpen juga tho??” Selama ini kita lebih akrab dengan esai-esai sosial budayanya Emha, puisi-puisinya, naskah drama, novel. Di dunia seni panggung Emha dikenal dengan Kiai Kanjengnya serta suaranya diakrabi lewat forum pengajian-pengajian dan sarasehan yang membahas berbagai dimensi kehidupan. Perihal cerpen?? Nah ini yang sering luput dari perhatian kita. Harus diakui bahwa untuk soal ini Emha kurang bagitu produktif. Dan buku ini adalah sebentuk usaha gigih Penerbit Kompas untuk menghimpun ceceran-ceceran cerpen karya Emha yang ditulisnya 1979-1982 yang tersebar di berbagai media massa. Usaha Penerbit Kompas tersebut patut dipuji sehingga memungkinkan kita untuk turut dapat menikmati karya cerpen-cerpen Emha dalam satu buku kumpulan cerpen yang diberi judul ‘BH’ ini. Read the rest of this entry

Lelaki Ke-1000 di Ranjangku

Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiiri dan lelaki yang mencampakkan ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini maka lelaki kedua hanyalah saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus….

Kututup pintu kamarku keras-keras, kukunci dan, “Pergi kau lelaki! Cuci mulut dan tubuhmu baik-baik sebab istrimu di rumah cukup dungu untuk kau kelabui.”

Bayangkan lelaki itu masih bisa berkata, “Kau jangan murung dan menderita, Yesus dulu disalib untuk sesuatu yang lebih bernilai bagi ummat manusia….”

“Aku tak punya Yesus! Aku pintar ngaji!” aku memotong.

Ia tersenyum , dan memandangku mirip dengan mripat burung hantu. “Kau putus asa Nia….”

“Aku memang putus asa. Bukan kau. Jadi pergilah!”

“Kau bukan perempuan yang tepat untuk berputus asa. Percayalah bahwa kehidupan ini sangat kaya. Dan aku ini laki-laki. Laki-laki sejati hanya mengucapkan kata-kata yang memang pantas dan ia yakini untuk diucapkan. Keinginanku untuk mengambilmu dari neraka ini dan mengawinimu….”

“Cukup Ron! Jangan ucapkan apa-apa dan pergi!”

“Nia!…..”

Kudorong ia keluar. Pintu kututup. angan ganggu. Kini aku mau tidur. Sama sekali tidur. Jangan ada mimpi dan jangan ada apapun juga. Semua buruk dan durhaka.

Kuhempaskan tubuhku yang gembur, tenagaku yang terbengkelai dan jiwaku yang arang keranjang.

Tengah malam sudah lewat. Kulemparkan handuk kecil basah ke kamar mandi mini di pojok. Di luar, musik sudah surut. Tinggal geremang suara lelaki, sesekali teriakan mabuk. Tapi Simon lulusan Nusakambangan itu pasti bisa membereskan segala kemungkinan.

Kupasrahkan segala kesendirianku di kasur. Tubuhku tergolek dan semuanya lemas. Kuhembuskan nafas panjang. Tak cukup panjang. Dadaku selalu sesak. Sahabatku dinding, atap, almari, kalender porno, handuk-handuk—sebenarnya ini semua kehidupan macam apa? Seorang perempuan, dari hari ke hari, harus mengangkang…..

Kumatikan lampu, “Sudahlah! Aku mau tidur. Sebenar-benarnya tidur. “Tuhan, kenapa jarang ada tidur yang tanpa bangun kembali? Alangkah gampangnya ini bagiku. Namun baiklah. Asal sekarang ini jangan ada yang menggangguku. Kalau ada yang mengetuk pintu, akan kuteriaki. Kalau ia mengetuk lagi, teriakanku akan lebih keras. Kalau ia ulang lagi, akan kubuka pintu sedikit dan kuludahi mukanya. Dan kalau ia masih mencoba merayu juga, akan kubunuh.

Datanglah besok, pada jam kerja, semaumu. Nikmati tubuh dan senyumanku, kapan saja kau bernafsu. Tapi jangan ganggu saat sendiriku. Sebab tak bisa lagi aku tersenyum. Aku tak boleh tersenyum untuk diriku sendiri. Aku bisa kehabisan, sebab ratusan bahkan ribuan lelaki sudah menunggu untuk membeli dan karena itu mereka merasa berhak sepenuhnya untuk memiliki keramahanku. Read the rest of this entry

KANG DASRIP

Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji, yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikan radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa. Perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar.
Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu rupiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh.
Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi terutama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu, pada acara khitanan anaknya ini, ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Bahkan bisa lebih banyak.
Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Read the rest of this entry

Angin Dari Gunung

Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada. Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, “Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu.”

“Aku sendiri sedang bertanya.”

“Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja.”

Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan kemudian dia berkata lagi. “Sudah lima tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya anak.”

Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira dia bicara lagi.

“Kau cinta pada istrimu tentu.”

“Anakku sudah dua.”

“Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau tentu bahagia.”

Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Angin pergi. Read the rest of this entry

Konsistensi : Sebuah formulasi masa depan

Konsisten itu muatan ketetapan hati
Prinsip hidup yang menjaga kita

Kalau kita berbicara tentang hal konsistensi di semua aspek kehidupan kita, jawaban umum yang sering kita terima adalah berbagai keluhan, nada-nada menggeremang, suara-suara apatis dan sedikit nyinyir. Konsistensi dijadikan bahan wacana, bahan keilmiahan di ruang-ruang simposium, materi dalam presentasi para pakar psikologi bahkan muncul dalam nasihat kuno orang tua dalam menasihati anak-anaknya sebagai salah satu landasan awal menuju kesuksesan masa depan meskipun itu hanya terbatas dalam rumbaian kata-kata bijak saja. Meskipun implementasi dalam kehidupan dipastikan seringkali kita mengalami kegagalan menerjemahkannya dalam hidup kita. Apa makna, inti, metoda dan arti dari konsistensi. Para pakar psikologi, para pengembang dan peneliti tingkah laku manusia, staff HRD, Kyai, Pendeta, guru-guru di jaman modern ini dengan gampang akan memberikan definisi yang gamblang kepada anda. Atau bahkan anda tidak pernah butuh analisa dan keterangan dari mereka, karena anda sendiri sebenarnya mengetahui apa itu arti konsistensi. Namun, kita ketahui bersama, sungguh bagai menegakkan benang basah dalam menerapkan hal ini dalam diri kita. Meskipun kesulitan itu tidak sama dan searti dengan tidak mungkin.
Manusia mempunyai kecenderungan psikologis dari SonoNya yang memang sudah menjadi naluri untuk selalu bergerak dinamis. Dinamis dapat diartikan dengan dengan suatu gerak perubahan untuk menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekitar. Hal tersebutlah yang menjadikan manusia dari zaman purba sampai jaman reformasi infomasi yang gegap gempita ini untuk selalu bertahan dari keadaan dan tekanan yang dihadapinya untuk menciptakan penemuan-penemuan dan perubahan-perubahan dalam hidup manusia itu sendiri. Read the rest of this entry