Kembalikan Rasa Malu dan “Kemaluanku” !!

Jika anda datang bertamu ke rumah tetangga atau handai tolan, maka hal pertama yang anda lakukan pastilah memberi salam, mengetuk pintu dan menunggu si tuan rumah mempersilakan kita untuk masuk. Setelah di terima masuk, mestinya anda tidak langsung dan nyelonong ke dalam bilik privacy tuan rumah, namun duduk dan jagongan di tempat yang sudah di sediakan di ruang tamu. Itulah unggah-ungguh budaya secara universal di setiap negara dan komunitas masyarakat di belahan dunia manapun. Jangan anda datang bertamu di tempat orang dan langsung menuju ke-misalnya-ruang tidur atau ruang makan dan mengambil segala jenis makanan yang ada di dalam lemari es, kalau anda tidak ingin di kemplang si tuan rumah. Itu sudah menjadi tata krama yang telah disekati secara komprehensif antar lapisan masyarakat. Dalam masyarakat jawa biasa disebut budaya kulonuwun.
Rumah, adalah sebuah simbol yang merepresentasikan hasrat, keinginan dan kompleksitas masalah, baik psikologi, hukum, moral dan budaya. Anda menciptakan rumah pastilah di bagi-bagi dan tersekat-sekat antar dinding. Ini menunjukkan bahwa jiwa manusia memiliki beberapa sekat psikologis. Kapan dimana saatnya manusia butuh kesendirian, dimana saat kita butuh bersantai dan mengorol dengan sanak family kita. Rumah menyediakan akomodasinya dengan ruang-ruang yang sudah di desain khusus untuk jiwa kita.
Kemudian, dimana relasi dengan tema kali ini?
Manusia mempunyai kecenderungan dua wajah. Satu wajah yang ingin di tampakkan dan satu wajah yang ingin di sembunyikan. Ruang tamu, halaman, teras, taman merupakan simbol dari rumah untuk kita tampilkan dan kita tunjukan kepada orang lain. Untuk itu kita menambahi berbagai ornamen dan pajangan-pajangan agar lebih tampak segar dan hidup. Namun disisi lain kita juga mempunyai kamar tidur, ruang-ruang pribadi yang kemungkinan orang luar tidak dapat mengakses sampai ke dalam, karena hanya dikhususkan untuk konsumsi pribadi. Karena tidak semua dalam di dunia ini harus di tampilkan. Jika itu dilanggar, produknya adalah rasa malu karena hal yang seharusnya ditutupi ternyata telah di ketahui orang lain.
Budaya jawa dan bangsa Indonesia sejak dulu sangat terkenal dalam budaya malu dan menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh-nya. Tutur katanya halus dan mempunyai segmen tingkatan bahasa yang tidak di miliki oleh budaya lain di dunia. Anda ngobrol dengan Nenek anda jangan anda samakan ngobrol seperti di warung kopi bersama handai taulan. Ada tata cara budaya jawa yang mengatur hubungan itu. Tidak seperti bahasa inggris yang hanya bisa ngoko kepada siapapun. Baik itu kepada ibu, bapak, nenek, sodara, teman, adik, atau kepada siapapun. Budaya egaliter dan tanpa tedeng aling-aling membuat budaya mancanegara lebih tidak punya malu kepada siapapun. Mereka telanjang, bermain seks di tempat umum, konvoi hanya memakai BH dan celana dalam, menggunakan bikini dan aksesoris yang—bukan untuk menutupi—namun lebih sebgai penegasan penelanjangan, dalam budaya mereka itu sudah biasa dan janganlah anda heran dan terkaget-kaget.
Justru anda harus kaget jika terdapat orang yang di besarkan dalam kondisi dan lingkungan budaya rasa malu yang tinggi tiba-tiba menjadi lebih tidak punya malu. Kadar tingkat rasa malunya pun sudah mencapai tahap yang paling akut kalau tidak boleh di bilang bebal. Pertunjukan parade ekshibisionis pacaran di tempat umum, hamil di luar nikah, korupsi penggerogotan nilai dan materi yang seharusnya milik rakyat. Dan berbagai kelakuan yang tidak sepantasnya seperti –masalah keluarga– dipertontonkan kepada publik, malah sekarang jadi komoditas industri infotainment yang sangat laris dan berbiaya sangat mahal. Seorang koruptor berjalan tegak dengan bangga sambil melambaikan tanganya dan tidak menunjukkan rasa bersalah setelah bebas dari penjara dan– misalnya kembali lagi sebagai dosen atau pekerja pemerintahan lain— masih saja tetap di hormati dan di junjung tinggi.
Rasa malu sudah hilang di gantikan dan bergeser mengikuti tingkat kepemilikan benda dan class strata seseorang. Semakin tinggi dan semakin kaya orang, tidak berarti pula semakin tinggi rasa malu. Karena rasa malu itu berasal dari grundelan, rerasanan antar teman yang sudah di replace oleh segenggam materiil. Saya korupsi dana pemerintah milyaran rupiah, saya bangun masjid, sekolahan, memberikan sumbangan kepada panti asuhan, itu dapat mengikis rasa malu saya karena saya berkorupsi. Karena nyata-nyata lembaga yang saya beri bantuan menerima dengan rasa syukur dan penuh doa kepada saya. Dan outputnya jelas, mereka semakin menghormati saya. Jikapun nanti saya konangan dan harus dipenjara, itu tidak masalah karena saya tetap mempunyai kedudukan tinggi dan mempunyai anak buah dan kacung yang setiap saat dapat saya sebar untuk melakukan lobi politik untuk tetap menjaga citra saya. Ketika saya kembali di tengah-tengah keluarga, saya tidak perlu untuk malu kepada pembantu saya yang notabene status nya di bawah saya.
Masyarakat jangan di ajari dengan budaya, tapi berikan pendidikan uang kepada mereka. Karena jelas konsep tersebut sangat efektif untuk meningkatkan, menjaga reputasi dan nama baik mereka. Tidak peduli anda seorang maling milyaran rupiah atau tidak.
Rasa tidak punya malu inilah yang sungguh sungguh terjadi di negara kita. Baik dalam pribadi bahkan sampai menduduki dan menelusup dalam lembaga-lembaga tingi negara. Kasus di DPR, Direkorat Pajak, dan lembaga tinggi negara lain mungkin akumulasi proses tahapan dari rasa malu yang sudah terkikis habis. Sehingga, meskipun sudah jelas-jelas merampok dan menguras duit rakyat, tapi masih saja dengan bangga dan mengaku sebagai penolong rakyat.
Bahkan telah muncul anekdot dari kalangan akar rumput. “Maulah saya di penjara, tapi asal bisa korupsi milyaran rupiah…..!!”. Alasannya jelas. Sekali kerja mendapatkan uang banyak yang tidak habis sampai anak cucu, dengan punishment yang “cukup ringan”. 1-5 tahun penjara. Sangat “enteng” sekali. Kita bekerja keras, memeras keringat membanting tulang apa saja, mustahil akan mendapatkan hasil sebesar itu. Di penjara pun betah, karena dapat di sulap bak istana raja dengan berbagai perabotan yang lux. Yang membuat kita kerasan di dalamnya. Ada tempat khusus ruang karaoke, bathtube, Laptop, Televisi, alat kebugaran dan berbagai macam jenis barang yang dirasa dapat membuat kita dapat menikmati hari-hari di penjara dengan nyaman. Makan, tidur, nonton film, kalo bosan bisa main domino atau dadu dengan tetangga sel sebelah. Kalau pengen narkoba tinggal pesan dengan tukang penjaga lapas nya saja layaknya pesen bakso di pinggir jalan. Nanti setelah bebas dari penjara, nyumbang masjid dan bikin pengajian. Memberi amplop kepada tetangga-tetangga kita, sambil menyuruh mereka menunduk dan mencium tangan kita.
Budaya malu sudah tidak populer. Karena terkesan katrok, ketinggalan jaman, culun, ndeso, minder, rendah diri yang secara bersama-sama disepakati oleh kebudayaan modern menjadi malu-maluin. Semakin kita malu semakin kita memalukan dan semakin harus dijauhi. Bahasa jelasnya, hilangkan rasa malu itu karena tidak sesuai dengan ideologi pasar modern.
Agen perubahan kultural tidak punya malu itu datang dari siapa saja. Dari media cetak, elektronik dan apapun. Namun satu hal yang pasti lakon perubahan itu bernama Artis.
Gerombolan artis datang berduyun-duyun untuk menjadi DPR, Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, dan kelak tidak lama lagi negara ini juga dipimpin oleh seorang “artis”. Karena dengan kepemimpinan seorang artislah yang mempunyai performance yang pede, glamour, ceria dan juga sama-sama tidak punya malu, maka rakyat menjadi lupa dengan penatnya hidup dan himpitan ekonomi. Karena seorang artis pandai dalam mengambil hati penontonnya daripada pemimpin yang kolokan. Seorang artis top ibukota, bermaksud menjadi Wakil Bupati sebuah kabupaten miskin di pojokan Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan niat yang mulia. Merasa terpanggil untuk berbakti kepada bangsa dan negara. Dengan aksesoris yang menggoda untuk menyenangkan hati calon rakyatnya. Bernyanyi, bergoyang dengan sentuhan erotis di setiap penampilannya. Pastilah rakyat yang menontonnya sudah lupa dan tidak merasa menderita lagi karena himpitan hutang.
Ya Tuhan, alangkah nikmatnya mempunyai pemimpin seperti itu. Dan malam harinya ketika saya sedang asyik memimpikannya, tiba-tiba ada seorang tua dengan jenggot putih yang lebat datang menghampiriku dengan menggenggam sebuah gunting. Belum mengerti apa maksudnya. Tiba-tiba dia berkata, “ Kalau sudah tidak butuh kemaluan, sini saya potong kemaluannya…………!!! Astaghfirullah. Saya kaget dan lari terbirit-birit meninggalkan kakek itu. []

N. Gilang Prayoga
Salatiga, 12 Apr. 10

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 12 April 2010, in Kolom Esai and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: