M Yunus : Pembebas Orang-orang Miskin dan Lemah

Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. M-Yunus

Muhammad Yunus dan Grameen Bank Bangladesh meraih Nobel Perdamaian 2006. Di tahun ini, untuk pertama kalinya, pemenangnya bukanlah selebriti yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figure dan badan yang dijagokan, tetapi yang peduli pada pemberdayaan orang-orang miskin dan lemah dan wanita. Ini untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian 2006 di Dhaka Bangladesh. “Ini penghargaan bagi kaum miskin!” seru Muhammmad Yunus (66), pendiri Bank Grameen yang kini memiliki 2.226 Cabang di 71.371 desa dan mamu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin.

Hingga detik-detik terakhir, Muhammad Yunus sama sekali tidak disebut-sebut berpeluang menerima hadiah Nobel Perdamaian 2006. Banyak kalangan menjagokan mantan presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang berjasa meredakan konflik Aceh. Tokoh lain yang dijagokan adalah Mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans yang berjasa merekonstruksi Kamboja da Vietnam; aktivis etnik Uighur Rebiya Kadeer yang menuduh Pemerintah China menyiksa orang Uighur di barat daya Xinjiang; dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Asle Sveen, seorang sejarawan Norwegia mengatakan, “Ini adalah untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan sendiri apresiasi itu. Sudah terlalu banyak nominasi bagi pihak-pihak yang melerai konflik-konflik. Kini Komite Nobel makin berihak kepada upaya pencegahan perang yang paling fundamental. Mengupayakan perdamaian tidaklah cukup, perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan. Salah satu penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan, harus diatasi mulai dari akarnya,’ kataSteven.

Kiprah Yunus memberdayakan orang-orang miskin dan lemah telah dilkukannya sejak tahun 1974. Ketika itu, sebagai professor ekonomi di Universtas Chittagong, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Betapa kagetnya Yunus ketika dia menyaksikan warga miskin di desa-desa berjuang lolos bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu dan telah menewaskan ratusan riu orang. Selanjutnya, sebagai akademisi Yunus pun merasa berdosa. “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan,” kata yunus.

“Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tiak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kamu. Sejak itu saya putuskan orang-orang miskin dan lemah hatus menjadi guru saya,’ tambahnya. Dari perasaan bersalah itu, laki-laki kelahiran Chittagong tahun 1940 itu mulai mengembangkan konsep pemberdayaan. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing untuk mencari ikan sendiri.

Tekad Yunus semakin bulat setelah mengetahui seorang ibu perajin bambu bernama Sufia Begum bolak balik berutang kepada tengkulak untuk mendapat modal membuat bangku dari bambu. Sufia yang tinggal di desa Jobra dekat Universitas Chittagong meminjam uang 5 taka tau kurang dari Rp 850,- untuk setiap bangku. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut berikut bunganya sebesar Rp 184,-. “Saya berkata pada diri sendiri, oh Tuhan, hanya karena lima taka dia menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus,” kata Yunus.

Untuk membantu Sufia dan teman-temannya sesama perajin, awalnya Yunus merogoh koceknya sendiri sebesar 27 dollar AS. Saat itu, dia begitu yakin bahwa jika orang miskin diberi akses kredit seperti yang diberikan kepada orang kaya, mereka pasti bisa mengelolanya dengan baik. “Berikan itu (kredit) kepada orang miskin, mereka akan bisa mengurus dirinya,”katanya. Keyakinan Yunus tidak meleset. Program kredit mikro yang digulirkannya terus berkembang.

Dua tahun kemudia, Yunus mulai mengembangkan program kredit mikro tanpa agunan untuk orang-orang miskin dan lemah yang tidak dapat mengakses pinjaman bank. Program ini menjadi semacam gugatan Yunus terhadap ketidakadilan dunia terhadap kaum miskin. “Mengapa lembaga keuangan selalu menolak orang miskin? Mengapa informasi teknologi menjadi hak ekslusif orang kaya,” tuturnya.

Tahun 1976, Yunus mentransformasikan lembaga kreditnya menjadi sebuah bank formal dengan aturan khusus bernama Bank Grameen, atau Bank Desa dalam bahasa Bengali. Hebatnya lagi, modalnya bank ini 94% persen dimiliki nasabah, yakni kaum miskin, dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut kini mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin yang menjadi peminjamnya. Sebanyak 96 persen nasabah bank ini adalah kaum perempuan.Untuk menjamin pembayaran, Bank Grameen menggunakan system yang dinamakan “Grup Solidaritas”. Kelompok kecil bersama-sama mengajuka pinjaman, di dalamnya terdapat anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran. Pinjama ini mirip dan bergulir, dimana ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh anggota lainnya. Bank Grameen kemudian memperluas cakupan pemberian kreditnya dengan memberikan pinjaman rumah (KPR), proyek irigasi, pinjaman untuk usaha tekstil dan usaha lainnya.

Pada akhir 2003, Bank Grameen meluncurkan program baru, yang membidik para pengemis di Bangladesh. Pinjaman bagi para pengemis rata-rata sebesar 500 tka atau setara 9 dollar AS. Pinjaman tanpa agunan ini tidak dikenakan bunga dengan waktu pembayaran fleksibel. Syaratnya pinjaman harus dikembalikan dari hasil pekerjaan mereka dan bukan dari mengemis. “Kami berupaya menaikkan harkat selain tentunya meningkatkan kemampuan ekonomi mereka,” kata Yunus dalam situsnya.

Mereka diberikan tanda pengenal berupa pin dengan logo bank sebagai bukti bahwa ada bank yang mendukung kegiatan mereka. Bank Grameen bahkan membuat perjanjian dengna beberapa took local agar meminjamkan mereka sejumlah barang, sesuai plafon utangnya, untuk di jual kembali. Bank menjamin pengembaliannya jika ternyata mereka gagal bayar. Mereka menjual roti, permen, acar, dan mainan sembari mereka mengemis. Para pengemis, atau yang disebut struggling member terbuka untuk membuka tabungan di Grameen. Mereka juga dilindungi asuransi jika terjadi kematian. HIngga pertengahan 2005, sebanyak 31 juta taka pinjaman telah disalurka bagi 47 ribu lebih pengemis. Sebanyak 15,4 juta di antara pinjaman itu telah dikembalikan.

Bank Grameen juga telah berkembang menjadi Grameen Family of Enterprises yang membawahkan delapan lembaga profit dan nonprofit, semuanya ditujukan untuk mendorong masyarakat terangkat derajatnya. Divisi perbankannya mencatat keuntungan sebesar 15,21 juta dollar pada 2005 lalu.

Gerakan pemberdayaan orang-orang miskin dan lemah yang diprakarsai Muhammad Yunnus kini diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia. Bahkan, Bank Dunia yang sebelumnya memandang program ini secara sebelah mata kini mengadopsi gagasan kredit mikro. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini.

Yunus dan Grameen Bank mendapatkan hadiah sebesar 1,36 juta dollar AS (sekitar Rp 12,5 miliar). Hadiah itu, kata Yunus, akan dipakai untuk proyek yang menghasilkan makanan bergii, murah dan juga kepada perawatan mata, pengadaan air minum serta pelayaan kesehatan

Sumber : Buletin Mocopat Syafaat 2011 Jogjakarta.

About these ads

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 16 March 2012, in News and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 459 other followers

%d bloggers like this: