Ramadhan Kebangsaan

Hari-hari ke depan ini kita akan memasuki momentum ramadhan. Bulan yang selalu di sambut penuh suka cita oleh kaum muslimin.

Tidak ada yang berduka dengan datangnya Ramadhan kecuali memang bagi sebagian anak-anak kecil kita yang terancam mulai esok pagi karena sudah tidak bisa menimati jajanan makanan. Meskipun saat memasuki buka puasa kompensasi kegembiraannya menghapuskan kesedihannya karena menahan lapar.

Namun bagi kita semua, Ramadhan adalah penuh berkah. Tidak ada yang menyangkalnya. Ulama, Ustadz-ustadz, para tokoh, pejabat pemerintah, orang-orang tua selalu menyampaikan kemuliaan ramadhan. Menganjurkan berpuasa untuk agar kita bisa merasakan penderitaan orang miskin dan berceramah untuk meningkatkan ibadah serta iman dan takwa kita, karena Allah akan melipat gandakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Begitu terus yang lazim kita dengar dari merekan pada saat kultum atau sambutan politik.

Mungkin karena kemandegan cara berpikir kita selama ini dan belum di gali lebih dalam tentang cakrawala ilmu puasa, pemahaman kita tentang puasa tidak pernah naik kelas. Stagnan dan lambat laun mengering. Kita belum lulus dalam merelevansikan hakikat dan makna puasa terhadap keseharian hidup kita. Kecuali kalau hanya kita mengharapkan untuk mendapat pahala dari Allah saja. Meskipun itu juga sah-sah saja dan baik juga.

Namun kok bila di pikir, di rasakan kurang sreg dan terasa “ngganjel” juga. Kalau toh, agama hanya mengurus soal pahala pribadi saja, dengan asyik masyuknya merayu Tuhan agar memasukkan kita ke dalam sorga, kok rasanya tidak sejalan dengan visi rahmatan lil alamin. Rahmat bagi sekalian alam atau tentang mandat Allah atas manusia untuk menjadi khalifah di bumi.

Bertolak dari itu, tentunya bisa kita lebarkan ke wilayah lain semacam puasa ramadhan yang akan kita jalani nantinya dengan membuka pintu pemahaman yang lebih luas dan aplikatif. Apakah puasa itu hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja. Apakah puasa itu hanya untuk menahan nafsu untuk tidak bersenggama di siang hari. Apakah puasa itu hanya untuk merasakan penderitaan orang miskin saja. Apakah tidak ada nilai lain yang terkandung dalam puasa yang lebih luas yang bisa kita gali bersama.

Umpamanya bila kita saksikan arena pertarungan Pilpres 2014 ini. Apa yang anda lihat dengan mata hati anda.

Sudah sejak beberapa bulan silam, setiap detik pendengaran dan mata kita selalu di suguhi oleh percecokan politik yang tidak sehat dan cenderung saling menghujat. Hati dan kepala kita terasa di pecah belah jadi dua kalau tidak Jokowi ya Prabowo. Nasionalisme kita tidak lagi kepada Indonesia Rayya tapi sudah kita persempit hanya untuk bagaimana memenangkan Prabowo atau Jokowi. Yang cara-cara yang di tempuhnya pun betapa sudah sangat melanggar etika-etika kepantasan.

Kita ini rakyat jadi serba bingung. Oleh bapak-bapak pejabat negara kita di suruh jadi orang baik dan tidak boleh mencela orang lain, tapi sampai di rumah kita melihat bahwa mereka sendiri yang mencela dan saling merendahkan satu sama lainnya. Mereka mengajari kita pancasila dan bhineka tunggal ika, mereka pula yang mencontohkan bagaimana melanggarnya.

Yang kita lihat selama ini dalam pilpres adalah pelampiasan-pelampiasan dari yang buruk-buruk dalam diri manusia. Semuanya bernafsu untuk sangat ingin memenangkan jagoannya masing-masing, tidak perduli apakah dengan menghancurkan yang lain.

Dan apa arti kemenangan bila kemenangan itu dengan memperhinakan dan memecah belah persaudaraan.

So, kita sekarang memasuki bulan Ramadhan. Bulan Puasa. Bulan pengendalian. Kita akan di uji apakah kita lulus dalam menjalani ramadhan kebangsaan kita ini dengan saling berendah hati ataukah kita memang sudah buta tuli terhadap makna puasa yang sejati.[]

 

Bobotsari, 28 Juni 2014

Memilih Tidak Memilih

270712-nasional1Sepanjang beberapa hari terakhir ini saya di perkenankan untuk di pertemukan dengan sekelompok masyarakat kecil di desa. Riuh rendah kami bercerita. Ngalor ngidul tema ceritanya. Tetapi selalu saja ada hal-hal unik dan menarik serta hikmah-hikmah yang di ambil dari pergaulan dengan wong cilik itu. Wong Cilik yang selama ini di lingkupi dengan stigma kebodohan, keluguan, ketertinggalan peradaban serta di jadikan objek pembangunan dari penguasan yang silih berganti namun wong cilik juga ternyata dapat memandang dari sorot matanya persoalan dengan sederhana, lugas, namun menyiratkan kepolosan dan kejujuran.

Tahun 2014 ini di negeri kami sedang hangat dan bersiap untuk menyambut pesta demokrasi lima tahunan. Tahun politik kalau kata intelektual yang sering mereka lihat di televisi. Dan sadar mereka adalah warga negara yang baik maka mereka juga turut serta asyik ikut mendiskusikan, mempergunjingkan, menganalisis bagaikan para pakar politik atau mereka-reka, otak-atik gatuk, meramalkan bagai paranormal modern di warung-watung kopi, di gardu poskamling, atau di tempat ojek pengkolan jalan.

Mereka riuh memperbincangkan konstelasi politik dari nasional sampai daerah dan dusun mereka masing-masing. Mulai dari siapa presidennya yangn cocok menggantikan SBY. Partai manakah yang akan memenangkan pemilu 2014. Siapakah caleg DPR/DPRD yang akan mereka pilih. Sampai dengan isu-isu mutakhir seperti gugatan pemilu serentak oleh Yusril ke MK, apakah benar tahun 2014 nanti tidak akan ada Pemilu. kasus korupsi Hambalang yang di duga sampai ke istana, sampai masalah ustad hariri yang menghebohkan itu. Read the rest of this entry

Ustad Indonesian Idol

Gambar

Suatu ketika datang sebuah pertanyaan kepada Mbah Petruk tentang video heboh Ustad Hariri di salah satu pengajian di Bandung. Bertanya sang penanya,”Mbah, tanggapan anda tentang Ustad Hariri bagaimana?”.

“Kalau menurutku sih bagus. ”

“Loh kok bagus? Maksudnya bagaimana? Kok anda malah memuji? Kok ndak ikut menghujat kelakuannya yang telah mencoreng islam itu?”

“Tidak ada pentingya untuk menghujat, karena toh selama ini tanpa ada kejadian dari Hariri itu, sebenarnya islam sudah di hujat sendiri oleh umat islam itu sendiri. Perbuatan kita, sikap perilaku dan cara pandang kita yang mengaku islam dan bangga dengan KTP Islam kita ini bahkan sebenarnya sebelas-dua belas sama Hariri alias ga jauh beda.”

“Kalau soal bagusnya, Mbah?”

“Jadi umat islam Indonesia, menjadi tergugah serta terbuka mata dan hatinya untuk tidak gampang-gampang percaya kepada segala hal yang artifisial atau jadi-jadian. Entah apapun sebutan atau nama profesinya, terserah jenis label jabatan yang di lekatkan padanya, dari kejadian ini umat islam akan mulai belajar kembali untuk mencari panutan, pemimpin, imam, sampai presiden yang benar-benar sejati.”

***

Sudah terlalu lama, bangsa indonesia ini mengidap penyakit hipokrisi akut, selain juga jenis-jenis penyakit psikologis lain yang sudah mencapai stadium empat yang sulit untuk di sembuhkan. Kita dengan mudah dan kalem mampu menyandingkan kemungkaran dan kebaikan, dosa dengan pahala, surga dan neraka, kebaikan dan kejahatan, kejelekan dan keindahan dan apapun saja. Karena sudah sedemikian kompleknya kehidupan kita yang di warnai hal seperti itu, semakin lama kita menjadi tidak mengerti kembali mana keindahan mana kebusukan, mana pemimpin mana parampok, mana presiden mana artis, mana ustad mana pedagang. Read the rest of this entry

Televisi itu Agama Saya

Malam minggu ini tidak ada hal lain yang lebih asik untuk melepas lelah kecuali dengan menonton televisi. Kotak LCD segi panjang ajaib itu menawarkan beragam acara yang sayang untuk di lewatkan. Dari acara joget ndangdut, talkshow-talkshow aktual soal masa depan bangsa, gosip selebritis, sampai pengajian oleh ustadz yang tampan-tampan. Bolehlah Departemen Penerangan di bubarkan, asal jangan acara televisi kena cekal. Karena apabila sampai di cekal, maka bersiaplah akan kita siapkan demonstrasi atas nama kebebasan pers dan HAM.

Bangsa indonesia adalah bangsa penikmat televisi. Siang malam selalu dan dimana saja orang tidak ingin ketinggalan tayangan favoritnya. Mereka duduk di depan televisi itu sambil ndlosor, duduk,  bercengkerama, tertawa terbahak-bahak sambil berdecak saking takjubnya. Read the rest of this entry

Amplop Kering Kang Ahmad

DSC_0019Kang Ahmad sedang pusing kepala. Seharian dia duduk bengong saja sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang di dapatnya dari tetangga yang kemarin siang meminta bantuannya memanjatkan kelapa.

Sebenarnya dia termasuk orang yang ga gampang pusing. Gak gampang khawatir, apalagi gampang masuk angin. Ndablek kata orang Jawa. Apalagi dengan soal-soal yang terkait dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak ada yang di perjuangkan untuk dirinya sendiri. Dia buta terhadap pemenuhan ego-ego pribadi. Hidupnya sudah di sedekahkan kepada masyarakat.

Karena dari itu kalau untuk masalah sosial, kepentingan-kepentingan umum, kebutuhan tetangga, sahabat atau kerabat, ia sangat bisa pusing kepala memikirkannya. Lebih pusing daripada umpamanya dia tidak punya uang untuk beli soto.

Ceritanya ia, jelek-jeleknya di angkat sebagai kader pemberdayaan oleh Pak Kades dengan dari rapat musyawarah dengan masyarakat. Soalnya bukan apa-apa, bukan sebab Kang Ahmad ini orang yang paling qualified, paling tinggi ijasahnya atau paling berpengalaman dalam bidang peningkatan pemberdayaan masyarakat, namun pilihannya adalah pragmatis: “karena tidak ada orang lain yang mau menjadi kader”. Read the rest of this entry

Merapi Perubahan

Merapi mulai melakukan revolusi diri untuk menandai perubahan-perubahan radikal d Indonesia.
Siklus 5 Millenium hampir tiba di titik simpulnya 
Suara-suara masa silam bangkit dari kuburnya
Ramalan Sabda Palon Naya Genggong akan semakin nyata
Perubahan itu jelas di depan mata

Operasi sunyi di mulai
Memberi warning nyata kepada manusia
Tentara langit dan bumi sedang bekerjasama
ndandani kerusakan yang di akibatkan oleh manusia-manusia pendusta

Dan silahkan saja bagi engkau siapa saja yang masih tertawa-tawa
Dan tidak mau menyadari kemungkinan pergantian
Silahkan sibuk dengan perhitungan 2014
Dan jangan salahkan bila engkau akan tergilas

Engkau hanya sebut bencana
Tanpa kita ingat bahwa kita punya banyak dosa
Kita hanya mengutuk kejamnya Tuhan
Dan alpa tentang kenikmatan yang di berikan

Merapi, laharmu akan memberi jalan bagi kehidupan baru
Asapmu akan memurnikan kembali atmosfer yang terkontaminasi nafsu manusia
Merapi, dentuman itu akan membungkam suara-suara picik penguasa
Merapi, akan menyatukan duka seluruh rakyat Indonesia
Untuk bekal kebangkitan masa depan kita

Merapi, 18 Nov 13
Gilang Prayoga
image

Peradilan Semu

timbanganKetika vonis hukuman kepada Ahmad Fathanah di jatuhkan dengan hukuman 14 tahun penjara dan denda 1 Milyar, banyak kalangan yang menganggap bahwa hukuman terlalu “ringan” dan tidak akan menimbulkan efek jera kepada terdakwa, meskipun di pihak lain kuasa hukum Ahmad Fathanah mati-matian membela kliennya bahwa Ahmad Fathanah tidak selayaknya di hukum se”berat” itu sehingga mereka merencanakan akan maju banding. Pengacara terdakwa menganggap putusan itu tidak adil, jaksa penuntut KPK juga menganggap tidak adil, pengamat juga mengatakan tidak adil, mungkin masyarakat juga berpendapat tidak adil dengan berbagai macam variabelnya masing-masing.

Ketika seorang terdakwa di vonis hukuman di pengadilan belum barang tentu hasil putusan itu memenuhi unsur “keadilan”. Keadilan itu bisa saja sangat subjektif, tidak berimbang, penuh manipulatif dan rekayasa. Vonis itu bisa sangat adil di pihak yang satu namun bisa sangat tidak adil di pihak sebelahnya. Karena ketika berperkara setiap orang ngotot dengan argumennya masing-masing yang sama-sama mendasarkan kepada Undang-Undang. Bila tidak ada pasal yang  mengatur secara eksplisit, bisa di cari di pasal-pasal abstrak yang membuat bingung para pendengarnya. Dan memang itu tujuannya, semakin bingung semakin kabur maka semakin sukses untuk mengobok-obok substansi keadilan itu sendiri. Hakim yang memutuskan suatu perkara bisa saja di hujat seluruh rakyat Indonesia karena bisa tidak memenuhi unsur harapan keadilan dari masyarakat.

***

Dalam suatu riwayat Muhammad Rasullah mengatakan bila sampai anaknya Fatimah Bin Muhammad mencuri, maka Muhammad yang akan memotong sendiri tangannya. Mungkin kalau Beliau hidup jaman sekarang pasti sudah di tuduh melanggar HAM, di tuntut Komnas Perlindungan Anak, di tuduh kejam dan tidak manusiawi dan bisa-bisa masuk penjara karena omongan seperti itu. Read the rest of this entry

Special Performace Kyai Kanjeng di Jakarta Night Religious Festival

[Perjalanan Sunyi Maiyah]

Jakarta Night Religious Festival yang di selenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2013 untuk menyambut Hari Raya Idul Adha, yang di inisiatifi oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, sukses menyedot animo masyarakat Jakarta untuk larut dalam syiar Islam yang di sampaikan melalui kesenian baik dalam musikalisasi Islam maupun teatrikal.
Kyai Kanjeng di dapuk menjadi pemuncak penampilan dalam JNRF. Sebelumnya telah di isi oleh berbagai artis seperti Cici Paramida, Siti KDI, Opick, Sulis dan berbagai kelompok kesenian di Jakarta seperti parade 1000 bedug.
Berikut beberapa suasana JNRF yang sempat saya abadikan : Read the rest of this entry

Kembali Mencintai Proses

prosesHari ini tadi, saya mendapatkan sebuah e-mail dari sebuah salah seorang teman yang menanyakan keberlangsungan blog saya yang semakin tidak terurus. Saya sedikit terkejut dan sedikit ke-GR-an, sekaligus juga terharu, ternyata sejelek-jeleknya isi konten blogku “Sebuah Catatan Tentang”, masih ada yang simpati menanyakan keberlangsungannya. Dan saya harus berterima kasih kepada beliaunya telah mengingatkan sehingga saya seolah-olah di tampar kesadarannya sehingga tiba-tiba memiliki semacam energi untuk mulai menulis kembali.

Malas memang menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya yang pantas untuk di jadikan kambing hitam untuk menutupi setiap kekurangan dan kelemahan kita. Dan dengan kalemnya kadang kita terbiasa bilang,” Ah..tidak punya waktu”, atau mungkin,” sedang sibuk dengan pekerjaan utama,”, “sedang buntu inspirasi,” atau bermacam alibi lain. Saat kita terpuruk, kita terbiasa ngeles dengan berbagai macam alasan. Maklum namanya manusia memang sudah begitu.

Namun kadang kita juga tidak objektif dan cenderung melupakan bahwa ada akar dari faktor elementer rasa malas itu yang ternyata bersumber dari persepsi dan motivasi kita yang salah arah. Persepsi dan motivasi yang salah tentang hakikat hidup, tentang hakikat etos kerja, tentang kreativitas dan apapun ternya sedikit banyak akan menyumbang kesesatan berpikir dan pada akhirnya mental serta kuda-kuda kita tidak pernah kokoh. Ketemu kendala sedikit saja sudah kalang kabut dan buntu, depress, stress dan ujungnya sampai frustasi.

Ketika kita akan melakukan apa saja ternyata sudah memikirkan tentang hambatan proses, kendala, masalah, maka sesungguhnya itu telah mendiskon besar-besaran potensi kreativitas kita. Bahkan salah-salah malah akan menguburkan dan memandulkan daya cipta, budaya kreasi dalam diri kita.

Dan hal bodoh itulah yang ternyata saya alami beberapa bulan terakhir ini. Dan sungguh saya menyesal dan berdoa kepada Allah swt semoga di ampuni dosa saya karena telah memubazirkan rizki inspirasi yang tidak pernah sempat saya bagi. Dan Tuhan mengingatkan saya, dengan mengirimkan seseorang yang entah dari mana asal-usulnya tersebut untuk sedikit menabok ketidaksadaran saya selama ini. Read the rest of this entry

Kerja Kok Minta Bayaran !!

129497558183216665

Mungkin tematik judul di atas adalah antitesis dari dunia profesional yang banyak berlaku di lingkungan kita di tengah derasnya arus modernitas dan semakin berlomba-lombanya manusia untuk menggapai tingkatan profesi setinggi-tingginya. Mungkin pula ini semacam fenomena arus balik dari sebuah mainstream populer kebudayaan materialistik kita. Dan boleh jadi, hal ini pula merupakan inisiatif kebangkitan kembali sebuah gerakan moral untuk menumbuhkan kembali tradisi-tradisi luhur nenek moyang tentang kebersamaan, gotong-royong dan suatu sikap “nriman” dan tidak melampiaskan dorongan nafsu duniawinya, ideologi sumeleh, atau semacam lilahilataala. Suatu gerakan akan cita-cita mulia yang tentunya wajib di dukung bersama dari kita yang masih mendambakan kerukunan, kebersamaan dan indahnya keguyuban yang semakin hari semakin luntur dari kehidupan kita.

Dunia globalisasi kita sekarang ini tengah di kepung oleh teori-teori yang sedikit banyak berlawanan dengan semangat kebersamaan. Dunia modern telah mengajari kita menjadi sangat rakus terhadap dunia, kalau tidak boleh di bilang serakah. Di setiap jengkal nafas kita telah di kepung dengan derasnya kesadaran untuk mengalahkan orang satu dengan yang lain. Menghancurkan manusia lain untuk melegitimasi kemenangan. Menumbangkan saudara lain untuk memperoleh kejayaan. Meremukkan nasib ribuan orang lain untuk memperoleh kekayaan bagi segelintir orang. Dan sistem mekanisme semacam itu di sahkan dalam kerangka formal dan baku yang di sebut profesional. Kapitalisme menjadi darah yang mengalir dalam nadi setiap manusia modern.

Visi kendaraan kapitalisme adalah menghimpun modal dan sumber daya untuk melipatgandakan berkali lipat. Sedangkan baju profesionalisme adalah anda harus sanggup berbuat tega hati bahkan kepada kerabatmu sendiri. Jangan banyak omong moral, etika dalam dunia kapitalisme dan profesional, karena hal itu hanya menjadi gincu pemanis yang luntur oleh cipratan hujan materialisme. Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 456 other followers